Di Aceh Besar ada tarian Ratôh Taloe. Tarian ini banyak terdapat di kampung-kampung nelayan. Oleh karena itu, dalam tarian ini banyak terkandung unsur kegiatan nelayan sehari-hari.
Diduga, tarian ini dulunya diadakan untuk mengisi waktu lowong nelayan. Sambil memperbaiki jala-jala yang sobek, mereka melakukan gerakan yang awalnya merupakan perbuatan iseng, tetapi secara bertahap kemudian menjurus kepada suatu tari.
Tarian ini diiringi lantunan bait-bait syair yang menyebut satu nama, yaitu Syeikh Ahad Badhan. Syaikh inilah yang menciptakan gerakan Ratôh Taloe menjadi tari.
Menurut Panteu Atjeh, syaikh berasal dari Arab. Ketika itu ia berlayar ke Aceh untuk menyebarkan Islam. Dalam pelayarannya yang memakan waktu berbulan-bulan, para awak kapal merasa bosan. Syaikh kemudian menciptakan Ratôh Taloe dalam bentuk permainan tali untuk awak kapal sehingga mereka dapat mengisi waktu luang dengan melakukan aktivitas menari tali ini.
Fungsi tari itu adalah sebagai media dakwah di kalangan nelayan dan masyarakat pada umumnya. Lama kelamaan berubah menjadi media hiburan berupa tontonan yang menyenangkan untuk mengisi waktu lowong dari kesibukan kehidupan sehari-hari.
Tarian ini dilakukan dalam posisi duduk, seperti duduk tahyat awal dalam salat. Pada waktu pertama muncul, para pemain dalam posisi berdiri dengan pimpinan syeikh memberikan penghormatan kepada penonton. Kemudian, pemain yang berjumlah dua belas orang mulai duduk dalam posisi seperti disebut di atas.