Merayakan maulid nabi Muhammad SAW pada tahun ini, mari kita mengenali junjungan alam itu lebih dekat, terutama dalam masalah perekonomian. Tak hanya ideal sebagai pemimpin umat dan panglima militer, sosok Rasulullah SAW juga seorang pebisnis yang sangat andal.

Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah, Edy Suwandi Hamid, mengatakan Rasulullah SAW merupakan rujukan yang baik dalam menggeluti dunia kewirausahaan.

Menurut Edy Suwandi Hamid, Rasulullah SAW justru memiliki karakter wirausahawan sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Ada beberapa karakteristik yang dipegang teguh Rasulullah SAW dalam menjalankan bisnis.

Pertama, ia dipandang sebagai seorang yang penuh semangat dan suka bekerja keras. Usaha berdagang yang dilakukan Rasulullah SAW tak serta-merta berkembang dan menjadi besar.

Ia mengawali kegiatan berdagang sejak usia 12 tahun. Ketika itu, ia menemani pamannya, Abu Thalib. Belajar dari pengalaman dan bisnis yang dijalani orang lain, ia kemudian mengembangkan usahanya sendiri.

“Rasulullah SAW terasah betul semangat bekerja kerasnya,” ujar ketua umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) ini saat dihubungi Republika, Senin 21 Desember 2015.

Rasulullah SAW juga memegang teguh kejujuran dan keterbukaan dalam setiap transaksi yang ia jalankan. Rasulullah SAW tidak menyembunyikan informasi tentang apa yang diperdagangkan. Sebab, Rasulullah SAW berpendapat penjual dan pembeli tidak boleh asimetris. Keduanya harus terbuka dan jujur.

Demi memperkuat kepercayaan yang diperoleh, Nabi Muhammad SAW juga selalu menepati janji. Beliau konsisten untuk mengirimkan barang sesuai waktu yang ia sebutkan kepada para relasi bisnisnya. Karena sifat ini pula Nabi Muhammad SAW mendapat julukan al-Amin.

Rasulullah SAW Kembangkan Bisnis Berskala Internasional

Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Syariah Institut Pertanian Bogor (IPB), Irfan Syauqi Beik mengungkapkan Rasulullah SAW menghabiskan sebagian besar waktunya, yaitu 28 tahun, untuk berdagang dan mengembangkan bisnis berskala internasional.

Kolaborasi pengalaman dalam kurun waktu yang panjang dan sifat-sifat terpuji pada diri Rasulullah SAW menjadikannya sosok konglomerat yang disegani dan memiliki reputasi yang sangat luar biasa.

“Setiap orang kalau berbisnis dengan beliau senantiasa merasa aman dan yakin produktivitas bisnisnya akan meningkat,” ungkap Irfan Syauqi Beik kepada Republika, Senin 21 Desember 2015.

Kepentingan dalam berbisnis dengan berbagai kabilah dan bangsa, ungkap Irfan, membantu Rasulullah SAW menjaga hubungan baik dengan mereka. Ini dimanfaatkan Nabi Muhammad SAW untuk meningkatkan stabilitas keamanan dan perdamaian.

Selain jujur, sambung Irfan, Rasulullah SAW juga menerapkan beberapa aturan, seperti tidak mengurangi timbangan dan tidak memakan uang riba. Beliau juga selalu mencari solusi bagi setiap pihak yang terlibat dalam perdagangan.

“Itu yang menurut saya konteksnya sangat relevan ketika itu, bahkan hingga saat ini,” ujar Irfan. Pedagang yang jujur dan saleh, itulah yang diinginkan Rasulullah SAW. 

Irfan mencontohkan secara langsung bagaimana pribadi seperti ini bisa terwujud dengan mengutamakan nilai-nilai tanpa menghilangkan profesionalisme.

Sebagai pedagang, Rasulullah SAW, memanfaatkan waktu dan peluang pasar dengan baik serta membangun komunikasi yang baik dengan pembeli dan sesama pedagang.

Teladani Rasulullah SAW Secara Komprehensif

Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Syariah Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Irfan Syauqi Beik mengungkapkan, momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, merupakan saat yang tepat untuk meneladani perilaku Rasulullah SAW secara lebih komprehensif.

''Sayangnya, umat Islam masih timpang dalam meneladani Rasulullah SAW. Keteladanan masih diikuti hanya dalam batasan-batasan ibadah, namun dalam muamalah masih begitu lemah,'' ungkap Irfan Syauqi Beik kepada Republika, Senin 21 Desember 2015.

Irfan kemudian mencontohkan, umat Islam dewasa ini merasa biasa saja ketika memakan uang riba. Padahal, jelas-jelas memakan riba diharamkan dalam Islam baik melalui Alquran mau pun hadis Nabi Muhammad SAW.

Apabila keteladanan secara menyeluruh terhadap Rasulullah SAW dilaksanakan dengan baik, Irfan yakin akan dapat memperkuat sistem syariah, yang artinya juga menghilangkan segala kecurangan, perjudian, serta riba.

“Teladani Rasulullah secara komprehensif. Jangan hanya meneladani sisi mahdah, tapi juga muamalah. Kalau ada komitmen untuk meneladani rasul dengan menyeluruh, saya yakin ini akan memberikan dampak yang luar biasa,” kata Irfan menegaskan.[](tyb)

Sumber: republika.co.id