SEORANG tawanan perempuan datang menemui Rasulullah. Dengan haru dan setengah menangis wanita itu berkata, “Rasulullah, aku Burrah, putri pemimpin Bani Mushthaliq. Kau lihat sendiri saat ini kami sedang dicincang malapetaka akibat perang. Suamiku terbunuh, dan aku jatuh sebagai tawanan Tsabit ibn Qais.
Ia memang lelaki baik, tak pernah berlaku buruk padaku. Namun, ketika kukatakan ingin menebus diri, dan ia tahu siapa kau, ia melejitkan harga tebusan. Rupanya ia ingin memeras harta dariku, tetapi aku tak punya. Maka, kupikir lebih baik minta perlindungan padamu. Tolong, bebaskan aku!”
Terenyuh hati Rasul melihat perempuan malang ini. Turut terasa di benak beliau apa yang ia derita, prihatin atas perputaran nasibnya yang berbalik sebegitu cepat. Seorang wanita terhormat, dalam jarak waktu sehari semalam, berubah menajdi wanita gembel dan hina. Mulut beliau diam terkunci, tetapi pikiran terus mencari.
“Apakah kau ingin sesuatu yang lebih baik dari apa yang kau keluhkan?” Meluncur tenang sabda Rasul ke jantung Burrah. Sabda yang menyejukkan hati, namun menyimpan misteri.
Burrah bertanya-tanya. Ia sendiri tak mengerti kenapa bertemu dengan Rasul seolah memadamkan api. Di matanya, Rasul adalah puncak di atas semua lelaki; tampan, agung, dan berwibawa. Ia berharap berita baik dari beliau, dan ia mencium kenyamanan asing dari bilik kenabian.
Nuraninya terus bertanya apa kira-kira yang dikehendaki Rasulullah? Sabda beliau tadi bagai embun pagi menyejukkan tunas yang nyaris mati. Tergagap mulut Burrah saat bertanya, “Apa itu, Rasulullah?”
“Aku akan menebusmu dan mengawinimu,” kata-kata Rasul jelas, tegas, dan padat.