TERKINI
HEALTH

Rasul: “Aku akan Menebusmu dan Mengawinimu”

SEORANG tawanan perempuan datang menemui Rasulullah. Dengan haru dan setengah menangis wanita itu berkata, "Rasulullah, aku Burrah, putri pemimpin Bani Mushthaliq. Kau lihat sendiri saat…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 694×

SEORANG tawanan perempuan datang menemui Rasulullah. Dengan haru dan setengah menangis wanita itu berkata, “Rasulullah, aku Burrah, putri pemimpin Bani Mushthaliq. Kau lihat sendiri saat ini kami sedang dicincang malapetaka akibat perang. Suamiku terbunuh, dan aku jatuh sebagai tawanan Tsabit ibn Qais.

Ia memang lelaki baik, tak pernah berlaku buruk padaku. Namun, ketika kukatakan ingin menebus diri, dan ia tahu siapa kau, ia melejitkan harga tebusan. Rupanya ia ingin memeras harta dariku, tetapi aku tak punya. Maka, kupikir lebih baik minta perlindungan padamu. Tolong, bebaskan aku!”

Terenyuh hati Rasul melihat perempuan malang ini. Turut terasa di benak beliau apa yang ia derita, prihatin atas perputaran nasibnya yang berbalik sebegitu cepat. Seorang wanita terhormat, dalam jarak waktu sehari semalam, berubah menajdi wanita gembel dan hina. Mulut beliau diam terkunci, tetapi pikiran terus mencari.

“Apakah kau ingin sesuatu yang lebih baik dari apa yang kau keluhkan?” Meluncur tenang sabda Rasul ke jantung Burrah. Sabda yang menyejukkan hati, namun menyimpan misteri.

Burrah bertanya-tanya. Ia sendiri tak mengerti kenapa bertemu dengan Rasul seolah memadamkan api. Di matanya, Rasul adalah puncak di atas semua lelaki; tampan, agung, dan berwibawa. Ia berharap berita baik dari beliau, dan ia mencium kenyamanan asing dari bilik kenabian.

Nuraninya terus bertanya apa kira-kira yang dikehendaki Rasulullah? Sabda beliau tadi bagai embun pagi menyejukkan tunas yang nyaris mati. Tergagap mulut Burrah saat bertanya, “Apa itu, Rasulullah?”

“Aku akan menebusmu dan mengawinimu,” kata-kata Rasul jelas, tegas, dan padat.

Burrah merasa dunia mengerut seketika hingga tubuhnya seolah tak tertampung di dalamnya. Hatinya berpijar, gundahnya seketika tuntas terlupakan. Ia bagai terbang ke sudut mimpi yang teduh dalam tidur nyenyak sebelum Subuh. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Ia tak percaya.

Nama Burrah kemudian diganti menjadi Juwairiyah. Sementara itu, begitu tahu Rasul telah mengawini Juwairiyah, dan itu artinya telah menjadi ibu segenap kaum mukmin, segenap kaum muslim tanpa ragu langsung membebaskan seluruh warga Bani Mushthaliq yang menjadi tawanan perang mereka. “Kerabat Rasulullah tak layak menjadi budak,” begitu alasan mereka.

Juwairiyah, dengan demikian, telah menjadi titik pangkal bagi kebaikan kaumnya. Ia hidup bahagia dalam rumah tangga Rasul, tanpa menyulut api persaingan dengan istri-istri yang lain untuk merebut simpati beliau.

Ia lebih suka menyatukan diri untuk memperbanyak amal baik, ibadah, dan zuhud. Juwairiyah meninggal dengan tenang, rela dan direlakan.

[Nizar Abazhah]

[] Sumber: inilah.com

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar