Pidie dalam lintasan sejarah bahkan hingga saat ini masih menjadi "kunci" penggerak Aceh dalam pembangunan. Bukan hanya itu seni budaya dan kesenian juga tidak sedikit…
Pidie dalam lintasan sejarah bahkan hingga saat ini masih menjadi “kunci” penggerak Aceh dalam pembangunan. Bukan hanya itu seni budaya dan kesenian juga tidak sedikit yang lahir di negeri “Pedir”.
Namun sangat disayangkan pihak pemerintah sepertinya menutup mata dalam melestarikan berbagai jenis kebudayaan aneuk bangsa, baikkah itu seudati dan berbagai jenis kebudayaan lainnya.
Kita melihat tidak ada perhatian khusus dalam melestarikan dan memasyarakatkan kebudayaan indatu kepada generasi baik di bangku sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Bahkan wakil rakyat (DPRK) khususnya Pidie sendiri yang menjadi penyambung suara masyarakat, juga seperti masih tidak peduli dengan budaya endatu. Benarkah?
Salah satu tarian yang lahir dari masyarakat Pidie walaupun tidak banyak yang mengetahui yakinu “rapai plok”, begitulah sebutannya. Rapai plok ini sesuai dengan namanya merupakan tarian dengan menggunakan media berupa barang bekas ( plok/kaleng).
Tarian rapai ini dimainkan dan diperkenalkan oleh anak-anak Gampông Pulo Tukok, kecamatan Batee, Kabupaten Pidie. Tarian ini menggunakan barang bekas atau plok cet ( bekas kaleng cat) dengan cara duduk berbanjar memukul plok cet dan disisipkan syair-syair islami.
Menurut pengakuan salah seorang tokoh agama dan masyarakat di sana Teungku Junaidi, menyebutkan bahwa rapai plok itu merupakan warisan endatu yang telah lama dipraktekkan dalam masyarakat.
“Hal yang unik ini sudah dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun dari masa ke masa,” ujar Teungku Junaidi yang juga alumni dayah MUDI Masjid Raya Samalanga.
Kita mengharapkan pemerintah peka terhadap kebudayaan yang kini kian punah dan perhatian serius pemerintah menjadi harapan kita semua baik pihak eksekutir dan legislatif. Nah! Sekarang mana nyalimu sebagai wakil rakyat, buktikan? Semoga. Wallahu 'Allam Bishawab.[]