LHOKSUKON – Hasil karya rapai dari pabrik rapai Aceh yang terletak di Gampong Blang Weu Panjoe, Kecamatan Blang Mangat Aceh Utara sudah menembus pulau Jawa dan Eropa. Padahal proses pembuatan rapai masih dilakukan dengan cara sederhana dengan peralatan yang minim.
“Alhamdulillah rapai buatan kami banyak diminati. Dari segi pemasaran yang kami lakukan sudah mencapai pulau Jawa, namun banyak juga rapai kami yang menembus Eropa meski itu dilakukan oleh agen. Untuk grup rapai dan sekolah-sekolah di Aceh, hampir 50 persen juga memesan rapai dari kami,” kata Suniadi, 31 tahun, pemilik Pabrik Rapai Aceh itu saat ditemui portalsatu.com di sela-sela kesibukannya, Minggu, 23 Oktober 2016 siang.
Sebenarnya, kata Suniadi yang akrab disapa Soni, usaha pembuatan rapai itu pertama kali dirintis ayahnya, Hasballah di era 2000-an. Diakui Soni, awalnya ia malah tidak serius saat usaha itu pertama kali dirintis.
Hasballah, 51 tahun, perintis Pabrik Rapai Aceh menyebutkan, dulunya ia merupakan penabuh rapai dan juga ketua grup rapai di gampong setempat. Ia memutuskan untuk menjadi pembuat rapai karena merasa sudah tua dan lelah menjadi penabuh rapai.
“Wate nyan ka hana muhoe jak le, maka jih loen beralih jeut keu tukang peget rapai. Loen peget-peget rapai katreb, tapi yang bit-bit fokus thon 2000 sekian. Nyoe waresan indatu, jadi wajeb tajaga bek punah,” ucapnya.
Menurut Hasballah, di masa konflik terdahulu, lokasi pembuatan rapai miliknya saat ini merupakan lapak pembuatan rapai yang dilakukan oleh salah satu warga setempat. Hanya saja dulu dilakukan secara tradisional. Untuk membulatkan kayu yang akan dijadikan rapai saja menggunakan kampak, bahkan untuk menghaluskan kayu yang sudah bulat pun alatnya dijalankan dengan kaki seperti layaknya orang menjahit. Kala itu dalam sehari hanya dapat menghasilkan satu atau dua rapai saja.
Ditambahkan Hasballah, usaha itu dijalankan dengan modal seadanya tanpa bantuan dana dari pihak manapun, termasuk pemerintah. Secara kebetulan ia juga tidak pernah mengajukan proposal permintaan bantuan ke pemerintah.
“Meski tidak besar, tapi dari usaha inikah saya menghidupi keluarga dan biaya pendidikan anak. Saya memiliki enam anak, satu di antaranya masih kuliah dan satu masih SMA. Saat ini omset penjualan setiap bulan sekitar Rp 40 juta,” ujarnya.