Salah satu bulan dalam tarikh Islam, namanya Safar. Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kelender Islam setelah Muharram. Bulan ini diyakini sebagai bulan diturunkan bala atau penyakit, tepatnya pada rabu terakhir bulan ini.
Masyarakat Aceh menamai rabu akhir safar dengan Rabu Abeh, di Jawa dikenal dengan nama Rabu Wekasan. Keyakinan masyarakat tersebut bukanlah tanpa dasar. Salah seorang Arifbillah yang telah sampai maqam marifah menceritakan hal tersebut dalam karangannya.
Beliau adalah Syekh al-Kamil Fariduddin as-Sukarjaanji dalam kitab al-Jawahir al-Khamsi halaman 5(lima). Dalam perspektif arifbillah tersebut mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Oleh sebab itu hari tersebut menjadi hari yang terberat di sepanjang tahun. Pernyataan senada juga disebutkan dalam kitabFawaidul Ukhrawiyah, Jamul Fawaid, Tuhfathul Mardhiyahdan lainnya.
Beranjak dari itu, maka dianjurkan kepada kita untuk melakukan shalat sunat, berdoa, bersedekah serta memperbanyak ibadah lainnya sebagai bentuk pengabdian dan memperbanyak amaliah juga sebagai bentuk metode preventif dalam menghindari berbagai musibah ,bencana dan hal negative lainnya dalam bulan tersebut.
Salah satu di antara amaliah ulama adalah shalat sunat yang dikenal denganshalat lidafil Bala(shalat untuk menolak Bala). Shalat sunnah lidafil bala (tolak bala) merupakan shalat sunnah hajat yang dikerjakan pada malam atau hari rabu akhir bulan Safar, tepatnya pada hari rabu pada pekan keempat.