TERKINI
NEWS

Purek III UIN: Banyaknya Kasus Kekerasan Bukti Kegagalan Pendidikan

Menurutnya, banyak hal yang perlu diperbaiki, terutama pelakunya untuk menumbuhkan tingkat kesadaran dan memperbaiki diri.

ISKANDAR NORMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 708×

BANDA ACEH – Pembantu Rektor III Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Dr. H. Samsul Rijal, M.Ag., mengaku prihatin melihat transformasi nilai pendidikan belum maksimal di Aceh.

Hal ini terlihat dari banyaknya kasus kekerasan terhadap anak, baik trafficking, eksploitasi anak, dan pemerkosaan. Semua ini dinilai menjadi salah satu bukti kegagalan pendidikan walaupun hal tersebut kejahatan manusia.

“Saya pikir, banyaknya angka kekerasan merupakan sebuah kegagalan pendidikan, karena tidak disertai dengan penegakan hukum dan seolah menjadi pembiaran. Jadi, kalau tidak adanya penegakan hukum maka tidak akan merubah situasi ke depan, meskipun ini kejahatan yang dilakukan oleh manusia,” kata Samsul Rijal saat dihubungi portalsatu.com via telepon, Jumat, 6 November 2015.

Menurutnya, banyak hal yang perlu diperbaiki, terutama pelakunya untuk menumbuhkan tingkat kesadaran dan memperbaiki diri.

“Sekarang kita memasuki Islam yang moderat, dalam artian Islam yang transformatif (berubah-ubah) dengan nilai-nilai peradaban. Substansinya, Islam tidak mungkin dirasakan di tengah-tengah kehidupan apabila tidak terkoneksi dengan Islam dari seluruh perilaku manusia,” ujarnya.

Menurut Samsul, Islam bukan hanya sebatas yang terdapat dalam rukun Islam, yaitu syahadat, salat, puasa, zakat dan haji. Akan tetapi, kata dia, juga memahami dan melakukan hal-hal kebaikan lainnya di luar itu.

“Islam bukan hanya semata hubungan antara manusia dengan Tuhannya, melainkan hubungan manusia dengan Tuhan itu yang meneguhkan nilai-nilai manusia antarsesama manusia. Lazimnya, yang gagal mengapresiasi antara hubungan manusia dengan manusia, berarti ia gagal dalam hubungan dengan Tuhannya,” ujar Samsul Rijal.[]

ISKANDAR NORMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar