Engkau punya Din Minimi,
kami punyai Dun Aracha.


Perang palsu, di sini raja pendusta
pengumpul istri, rumah, dan kendaraan
pasukan tercerai berai.


Tahun lalu, ada raja teler
pamerkan diri terbang
ia pun tersingkir dan meronta.


Din Minimi, raja kita palsu,
melumuri diri dengan darah
di dalam Rubicon, sementara
jika tetangga menahan beras,
kita makan daun kelapa.


Wakil kita boneka kecil lucu,
tersenyum manis selalu
seperti raja dan kaulanya,
mengumpulkan mainan baru,
membalap di gunung dan kota
ketika orang kampung bertanya,
“Akankah kita punya sebambu beras hari ini?”


Kaum cendikia di menara
berpura lupa dihalalkan riba
sampai api neraka tiba di tangga
balai dan kampusnya.


Kanak-kanak menjilat untuk surat
nilai tamat. Al Quran, kini di mana?


Din Minimi, Dun Aracha
Raja palsu kita punya
cendikia penipu pun ada
senjata gagal mengubahnya.


Kita jemput seorang adil, suluh kebenaran
penawar negeri yang terluka.


Banda Aceh, 13 Januari 2016.


*Thayeb Loh Angen, Pengurus Sekolah Hamzah Fansuri, Perancang Kota Puisi, penulis novel Teuntra Atom dan novel Aceh 2025, jurnalis, aktivis kebudayaan.