Puisi-puisi Suhaimi

 

Bukan Sihir Hutan

Sampai pagi ini
Belum ada lagi
Kesemestian alam
Kejernihan hutan dalam

Setelah tangan-tangan bengis
Gigi-gigi gergaji
Melahap gambut
Meluap kabut

Entah kemana lagi
Singgah petang ini
Biasanya menegur
Menyauti fauna-fauna

Sekarang,
Apalagi yang kalian lakukan selain tertegun?
Melihat ketidaksemestian ini
Wajah alam murung


Menatap Tuhan malu
Siapa lagi yang menyeru?
Selain percikan air di dada khatulistiwa?
Tidak ada!

Nyawa-nyawa yang mati
Siapa peduli?
Wahai abdi hamba!
Buang kuping tuli!

Lihatlah bumi mengamuk
Kutukilah tangan-tanganmu
Karena bencana ini pintamu
Bukan sihir hutan!

Kuping Tuli

Pasang ‘kuping tuli’ itu kawan
Jangan kau takut melawan
Jangan kau melemah

Setelah gumam-gumam hayal
Seusai janji-janji surga
Kau tetap kau,
Dia tetap dia!

Jangan kau buta tempat kau pijak
Kau masih Si Abdi yang tersulap umbar-umbar setan
Ganas kehidupan kau rasa
Surga dunia tetap milik mereka

‘kuping tuli’ terus kau pasang
Mendengar suara demokrasi
Melawan lupa
Hingga kau sadar pada satu masa
Apa yang mencabut keadilan dari warna-warninya?
Apa selain penipu yang menjadi penguasa?

 

Ejakan Untukku!

Ejakan untukku saat rihun menyergap
Sebaris kalam yang kau untai
Saat mata melihat sketsa yang sama

Ejakan untukku riak rindu
Bisikkan pelan-pelan, sedu sedan
Alunan syair malam

Lorong mana yang kau usir kelabu
Dinding yang kau lukis biru
Menelan gaduh suara palsu

Ejakan untukku 
Kisahmu
Walau mulutmu setengah membisu

 

 

Suhaimi adalah Mahasiswa Antropologi Unimal Lhokseumawe, Pegiat di Komunitas Panteu Menulis Pasee, Peserta 10 Besar Aceh Documentary Competition (ADC) 2013 “The Power of Aceh”.