JERUSSALEM – Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyerukan agar kekerasan dihentikan. Dalam pidato pertama sejak kekerasan dimulai, Abbas menegaskan, ia lebih setuju dan mendukung perjuangan yang damai dan populer untuk melawan Israel.
Kekerasan terus berlanjut di Jerusalem. Hari Rabu (14/10), seorang pria berusia 20 tahun dilaporkan menyerang seorang penjaga keamanan di pintu masuk kota tua dengan sebilah pisau. Serangan itu dapat digagalkan. Serangan lain menyasar seorang perempuan tua berusia sekitar 70 tahun. Dalam dua peristiwa berbeda itu, kedua penyerang dilumpuhkan oleh polisi.
Gelombang serangan terutama penikaman oleh warga Palestina telah menyebarkan ketakutan di Israel, sementara serangan pisau pada sebuah bus di Jerusalem pada Selasa lalu menewaskan dua orang dan menyebabkan kemarahan di kalangan warga Israel. Pada hari yang sama, seorang warga Palestina dengan sengaja menabrakkan kendaraan yang dikemudikannya ke arah pejalan kaki dan kemudian keluar lalu menyerang dengan menggunakan pisau.
Memburuknya situasi itu kian memberi tekanan pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang terus didesak untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Palestina. Saat ini, sejumlah pos pemeriksaan didirikan dan aparat Israel memberlakukan jam malam.
Pada pertemuan kabinet yang membahas isu keamanan, diputuskan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dapat mencabut hak residensi warga Palestina yang diduga memiliki komitmen terhadap terorisme. Selain itu, rumah-rumah warga Palestina yang diduga terlibat penyerangan juga akan dibongkar.
Kabinet pun menyetujui penambahan polisi, penjagaan ekstra pada angkutan umum dan penyebaran unit militer di daerah yang dianggap sensitif serta memasang beton-beton penghalang yang memisahkan Tepi Barat.
Saat ini sejumlah barikade telah dipasang di jalan-jalan di kawasan warga Palestina tinggal di Jerusalem timur. Israel pun mulai menggerakkan tentaranya ke berbagai pelosok untuk menghentikan serangan pisau.
Dalam insiden terbaru, seorang warga Palestina menikam dan melukai seorang wanita berusia 70 tahun di luar stasiun bus Jerusalem. Penyerang kemudian ditembak mati oleh petugas keamanan.
Dua jam sebelumnya, seorang pemuda Palestina lain juga ditembak mati setelah ia berusaha menusuk polisi paramiliter di pintu masuk ke kota tua.
Dari tayangan televisi ditunjukkan penyerang berpakaian ala militer berjalan dengan pisau di tangannya. Tembakan kemudian terdengar dan dalam video lain tampak ia ditembak lagi ketika tergeletak di tanah.
Kekerasan itu meluas setelah sebelumnya terpicu kemarahan warga Palestina atas apa yang mereka lihat sebagai peningkatan perambahan Yahudi di kompleks Masjid Al Aqsa di Jerusalem yang juga dihormati oleh orang Yahudi sebagai situs. Di sisi lain ada pengaruh dari kegagalan upaya damai yang tengah dibicarakan dan upaya lain untuk mengakhiri pembangunan oleh Israel di Tepi Barat dan Jerusalem timur.
Di sisi lain penutupan jalan menyusul rangkaian aksi kekerasan itu mendapat kritik tajam dari pihak Palestina. Dimitrii Delliani, seorang pejabat dalam gerakan Fatah, mengatakan, penutupan pintu masuk ke lingkungan Palestina adalah hukuman kolektif yang melanggar semua hukum internasional.
Sementara itu, kelompok Hamas lebih keras menanggapi kebijakan itu. “Keputusan kabinet Israel tidak akan menghentikan intifada. Para petarung tidak takut pembatasan keamanan baru,” kata Hussam Badrawn, juru bicara kelompok militan Hamas di Tepi Barat.
Dalam intifada pertama dan kedua, dari 1987-1993 dan 2000-2005, ratusan orang tewas dalam kekerasan yang terjadi hampir setiap hari. Seorang pejabat Israel mengatakan lingkungan Palestina tidak akan ditutup sepenuhnya, menggambarkan tindakan itu sebagai “pengepungan longgar”.
Menurut dia, banyak penyerang berasal dari wilayah Jerusalem timur. Hal itu juga ditegaskan oleh pejabat Israel lainnya. “Tidak ada yang akan mengunci Jerusalem timur,” kata Menteri Kehakiman Israel Ayelet Shaked.
Dari Washington DC dikabarkan, Menteri Luar Negeri AS John Kerry berencana melakukan lawatan ke Timur Tengah untuk mencoba membantu menenangkan kedua pihak. Sementara itu, Sekjen PBB Ban Ki-moon yang prihatin dengan perkembangan situasi di Jerusalem mendesak Israel untuk melaksanakan peninjauan atas pasukan yang dikirim ke kota itu.[] sumber: kompas.com