TERKINI
PROFIL

Politik Das Sollen and Das Sein

Oleh:  Helmi Abubakar Aceh sebagai salah satu daerah yang tidak luput dari berbagai peristiwa, konflik dan beragam fenomena lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Kini Aceh…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 2.9K×

Oleh:  Helmi Abubakar

Aceh sebagai salah satu daerah yang tidak luput dari berbagai peristiwa, konflik dan beragam fenomena lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Kini Aceh tepat awal tahun 2017 nanti akan menyelenggarakan pesta demokrasi, Pilkada serentak.

Sekian banyaknya daerah yang akan menyukseskan Pilkada, seperti Bireuen salah satu daerah yang akan menyedot perhatian banyak public. Bahkan gemuruh politik Bireuen seakan memadam kobaran “api politik” Pemilihan Gubernur menuju kursi Aceh-1.

Letupan dan hiruk pikuk “kebisingan” dan “keganasan” aroma politik Bireuen ikut mendapat perhatian sosok tokoh ulama muda yang penuh talenta.

“Menyimak berbagai status di media sosial, terutama Facebook, hari-hari ini, hati saya miris. Saya enggak tahu, apakah teman-teman yang lain juga mengalami hal yang sama. Status-status yang dipasang oleh masing-masing lawan politik saling melancarkan serangan-serangan “hitam” atau “propaganda” yang tidak etis dan kurang mendidik,” ujar Teungku Iswadi Arsyad sambil memanjakan secangkir kopi di warkop ATRA Samalanga kepada penulis Minggu, 18 September  2016.

Di tengah kepungan sebatang asap rokok dan dihiasi suara kegaduhan warkop tertua di Samalanga itu, beliau menyebutkan, hak semua orang untuk bersuara. Membela calon pemimpin kepala daerah yang dijagokan merupakan sebuah hal yang lumrah. Akan tetapi, perlulah juga diperhatikan norma-norma dan etika yang berlaku. Meskipun tidak tertulis, aturan-aturan standar dalam berpendapat, nilai-nilai moral, dan kepantasan sewajarnya mengikat semua kita untuk berpolitik.

“Apabila muncul pertanyaan: ‘mengapa mesti berpolitik?’ Jawabannya adalah orientasi material yang disebabkan kedangkalan cara berpikir. Itu terjadi karena politik telah dikuasai oleh kalangan medioker yang tidak terbiasa berpikir mendalam. Mereka hanya ingin mengubah kehidupan sendiri dan keluarga, dan paling luas adalah kelompok sendiri, menjadi lebih baik dengan kekayaan material yang bisa didapatkan lebih mudah dengan menggunakan kekuasaan politik,” ujar Mahasiswa Jurusan Komunikasi Pascasarjana IAIN Malikussaleh Lhokseumawe dengan sedikit nada agak lembut, tapi menghanyutkan itu, dihiasi senyuman kecil yang penuh seribu makna.

“Sebaiknya tidaklah perlu menyerang pribadi seseorang secara membabi buta tanpa peduli lagi dengan rambu-rambu kepantasan, dan tetap menghargai sesama walaupun berbeda pendapat. Jadikan politik sebagai jembatan menuju perbaikan dan perubahan berorientasi ukhrawi,” papar putra Laweung yang kini menjadi pengasuh jemaah pengajian yang bertebaran di Bireuen dan Pidie itu.

Beliau melanjutkan kupasan tentang “kemunafikan” politik itu disebabkan oleh politik yang seharusnya (das sollen) menjadi sarana untuk menciptakan kebaikan dan perbaikan serta perubahan dalam masyarakat. Tetapi kenyataannya (das sein) justru menjadi sarana penyebab kedestruktifan.

The power politik justru seringkali dijadikan sebagai sarana untuk menindas dan mengisap darah dan “memperkosa” rakyat. Das sollen dan das sein politik sangat ditentukan oleh siapa yang menjadi pemain politik dan kawan-kawannya.

Namun seandai politisinya baik, das sollen politik sebagai wacana menjadi realita. Dengan ungkapan lain, terjadi sinkronisasi antara das sollen dan das sein politik. Hanya ketika das sollen dengan das sein bersesuaianlah suatu negara mampu menjadi sarana untuk menciptakan kebaikan dan kesejahteraan secara bersama bahu membahu.

“Makin tidak berkualitas pelaku politik, niscaya kesenjangan antara das sollen dan das sein politik akan menjadi semakin jauh dari harapan yang esensial. Satu hal yang perlu kita camkan politik itu pada dasarnya merupakan ekspresi cinta. Politik orang baik dan beradab terekspresi menjadi cinta kepada seluruh umat manusia,” ulas Tgk. Laweung, sapaan akrab Iswadi Arsyad, sambil menyerup kopi aroma khas cita rasa kopi ATRA Samalanga.

Sebelum beranjak, beliau menutup pembicaraan dengan sebuah nasihat: “Bek sampetanyoe dalam berbuat sesuatu lagei kuda bloeh paya leumo cot ikue“.[]

*Helmi Abubakar, seorang guru di Dayah Mudi Mesra Samalanga dan mahasiswa Pascasarjana IAIN Malikussaleh Lhokseumawe.

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar