Oleh: Helmi Abubakar
Aceh sebagai salah satu daerah yang tidak luput dari berbagai peristiwa, konflik dan beragam fenomena lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Kini Aceh tepat awal tahun 2017 nanti akan menyelenggarakan pesta demokrasi, Pilkada serentak.
Sekian banyaknya daerah yang akan menyukseskan Pilkada, seperti Bireuen salah satu daerah yang akan menyedot perhatian banyak public. Bahkan gemuruh politik Bireuen seakan memadam kobaran “api politik” Pemilihan Gubernur menuju kursi Aceh-1.
Letupan dan hiruk pikuk “kebisingan” dan “keganasan” aroma politik Bireuen ikut mendapat perhatian sosok tokoh ulama muda yang penuh talenta.
“Menyimak berbagai status di media sosial, terutama Facebook, hari-hari ini, hati saya miris. Saya enggak tahu, apakah teman-teman yang lain juga mengalami hal yang sama. Status-status yang dipasang oleh masing-masing lawan politik saling melancarkan serangan-serangan “hitam” atau “propaganda” yang tidak etis dan kurang mendidik,” ujar Teungku Iswadi Arsyad sambil memanjakan secangkir kopi di warkop ATRA Samalanga kepada penulis Minggu, 18 September 2016.
Di tengah kepungan sebatang asap rokok dan dihiasi suara kegaduhan warkop tertua di Samalanga itu, beliau menyebutkan, hak semua orang untuk bersuara. Membela calon pemimpin kepala daerah yang dijagokan merupakan sebuah hal yang lumrah. Akan tetapi, perlulah juga diperhatikan norma-norma dan etika yang berlaku. Meskipun tidak tertulis, aturan-aturan standar dalam berpendapat, nilai-nilai moral, dan kepantasan sewajarnya mengikat semua kita untuk berpolitik.
“Apabila muncul pertanyaan: mengapa mesti berpolitik? Jawabannya adalah orientasi material yang disebabkan kedangkalan cara berpikir. Itu terjadi karena politik telah dikuasai oleh kalangan medioker yang tidak terbiasa berpikir mendalam. Mereka hanya ingin mengubah kehidupan sendiri dan keluarga, dan paling luas adalah kelompok sendiri, menjadi lebih baik dengan kekayaan material yang bisa didapatkan lebih mudah dengan menggunakan kekuasaan politik,” ujar Mahasiswa Jurusan Komunikasi Pascasarjana IAIN Malikussaleh Lhokseumawe dengan sedikit nada agak lembut, tapi menghanyutkan itu, dihiasi senyuman kecil yang penuh seribu makna.