BANDA ACEH – Perhelatan demokrasi untuk memilih calon kepala daerah di Aceh kian dekat. Berbagai manuver serta strategi baru dari para tokoh dan partai politik terus dimainkan. Salah satunya adalah perubahan sikap Partai Demokrat dan PPP di tingkat provinsi.
Seperti diketahui, Partai Demokrat jauh-jauh hari telah menyatakan sikap akan mendukung H Muzakir Manaf sebagai calon Gubernur Aceh pada 2017. Pernyataan tersebut disampaikan beberapa kali dalam pertemuan Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) di Banda Aceh. Demokrat tergabung dalam KAB dan kerap hadir di berbagai pertemuan partai koalisi tersebut. Namun belakangan hari, Partai Demokrat berpaling ke kubu Irwandi Yusuf. Tidak tanggung-tanggung, Nova Iriansyah yang adalah pimpinan daerah partai besutan SBY ini dipinang sebagai calon wakil gubernur untuk mendampingi Irwandi.
Tidak hanya Demokrat, peta politik Aceh turut berubah setelah Partai Damai Aceh (PDA) pimpinan Muhibussabri juga mendukung Irwandi Yusuf. Begitu juga dengan PKB.
Sikap politik Partai Demokrat menetapkan Irwandi Yusuf sebagai calon Gubernur Aceh pada Pilkada 2017 mendapat respons langsung dari Ketua Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA PA), Muzakir Manaf alias Mualem. Dilansir Serambi Indonesia, edisi 9 Agustus 2016, Mualem menyebutkan Partai Demokrat telah dua kali mengkhianati Partai Aceh dalam percaturan pemilu. “Cukup rakyat Aceh yang menilainya, kata Mualem di Banda Aceh, Senin, 8 Agustus 2016.
Mualem menyebutkan pengkhianatan Partai Demokrat terhadap PA sudah terjadi sejak Pilkada 2012 lalu. Saat itu, Partai Demokrat pernah ditunjuk oleh parnas dan parlok sebagai Ketua Tim Kaukus untuk melakukan advokasi ke pusat agar tahapan pilkada yang salah bisa ditunda dan diperbaiki. Demokrat sengaja ditunjuk sebagai ketua tim dengan alasan saat itu Presiden RI adalah Dr. Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY), yang berjanji akan menunda Pilkada Aceh dan memperbaiki kembali tahapannya. (Baca juga: Muzakir: Demokrat Mengkhianati Masyarakat Aceh)
Semua parnas dan parlok menunggu keputusan itu. Ketika tahapan masuk pada pendaftaran, e, ternyata Demokrat ingkar janji dengan mendaftar pada menit-menit terakhir dan mengusung Nazar-Nova, ungkap Mualem seperti dirilis Serambi Indonesia.
Mengenai hal ini, Nova Iriansyah berkilah bahwa sebenarnya Partai Demokrat lah yang duluan dikhianati PA. Kami justru merasa ditinggal Mualem ketika penetapan calon wagub, jadi terus terang Partai Demokrat sudah dikhianati duluan, kata Nova Iriansyah seperti dilansir Serambi, Selasa, 9 Agustus 2016.
Alasan Nova Iriansyah menyebutkan Demokrat lebih dulu dikhianati lantaran penetapan calon wakil Mualem di Pilkada 2017, yakni TA Khalid, sama sekali tidak dikoordinasikan dengan DPD Demokrat Aceh. Dalam rapat koalisi terakhir di rumah dinas Mualem di Blangpadang, kata Nova, dirinya telah menanyakan siapa wakil yang akan diambil Mualem untuk maju pada Pilkada 2017.
Mualem menjawab saat itu, butuh waktu sedikit lagi untuk mengumumkan itu. Mualem juga berjanji akan duduk rapat sekali lagi membahas itu, sebelum mengumumkan secara resmi. Hal itu pun saya laporkan ke DPP, semua perkembangan saya komunikasikan kepada DPP, kata Nova. (Baca: Ini Alasan Demokrat Aceh Usung Irwandi Yusuf)
Setelah berpalingnya Partai Demokrat, saat ini pasangan Mualem-TA Khalid hanya didukung oleh Partai Aceh yang memiliki 29 kursi di parlemen atau 35,80 persen dukungan. Jumlah ini kemudian ditambah kekuatan 3 kursi milik Gerindra dan 4 kursi milik PKS. Sementara total kursi dukungan yang dimiliki pasangan H Muzakir Manaf-TA Khalid adalah sebanyak 45 kursi atau 44.46 persen.
Sementara pasangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah didukung oleh 8 kursi atau 9,88 persen dari Partai Demokrat. Kemudian tambahan tiga kursi dari PNA, satu kursi dari PDA, dan satu kursi dari PKB. Total keseluruhan kursi untuk pasangan ini adalah 13 kursi atau 16,04 persen di parlemen Aceh.