TERKINI
FEATURE

Pesawat Seulawah RI 001 dan Hari Puisi Dunia

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai Hari Puisi Dunia pada Tanggal 21 Maret, di tahun 2016 ini telah berlalu. Walaupun begitu sehari sebelum tanggal yang sudah…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 947×

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

Hari Puisi Dunia pada Tanggal 21 Maret, di tahun 2016 ini telah berlalu. Walaupun begitu sehari sebelum tanggal yang sudah menjadi sejarah bagi dunia tersebut, sekalian penyair Kota Puisi telah memperingatinya pada pagi hari Minggu, 20 Maret 2016, di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, tepatnya di bawah Monumen Pesawat Seulawah RI 01.

Kota Puisi merupakan nama dari kegiatan yang dilakukan oleh sekalian penyair di Banda Aceh, khususnya Aceh, baik Meulaboh, Lhokseumawe, dan Langsa. Acara ini merupakan acara rutin yang diadakan sebulan sekali oleh beberapa kota tersebut dan khusus di hari Minggu kerana pada hari itu merupakan hari libur.

Setelah kami sudah berada di lapangan Blang Padang Banda Aceh tersebut, tepat pada pukul sembilan lewat tiga puluh tiga menit, “Hari ini kita akan membaca puisi di mana?” tanya Thayeb Loh Angen.

Penulis novel ‘Aceh 2025’ ini merupakan penggagas pertama acara kota puisi, yaitu acara baca puisi keliling kota tersebut.

“Untuk hari ini, kita akan membaca puisi di bawah Monumen Replika Pesawat Seulawah RI 01,” ujar salah seorang penyair lainnya, Muhammaed Rain (Muhrain). Ia juga salah seorang promotor untuk acara Kota Puisi. Dan Kota Puisi ini bukan punya perseorangan atau kelompok tertentu, tiadalah ia pemilik khusus akan acara ini. Hanya digagas sahaja oleh Thayeb Loh Angen. Hanya ia.

Adalah menjadi hal yang sangat bersejarah untuk hari Minggu tanggal 20 Maret 2016, oleh sabab para penyair Kota Puisi berkesempatan memperingati Hari Puisi Dunia tersebut, tepatnya di bawah Monumen Replika Pesawat Seulawah RI 001. Dan bukan secara kebetulan akanpada acara tersebut telah berlaku di situ, menurut asumsi saya mungkin juga dengan rakan-rakan yang lainnya.

“Hari ini membaca puisi seperti biasa sekaligus memperingati hari Puisi Dunia, yang menjadi luar biasa untuk kesempatan kali ini ialah kerana memebaca puisi di bawah Monumen Pesawat Pertama Indonesia, semoga sahaja kabar baik ini (para Penyair Kota Puisi Aceh memperingati hari Puisi Dunia) akan sampai kepada masyarakat Dunia,” saya berguman di dalam hati sembari sebuah senyuman pahit terukir sendiri di mulut ini.

Entah kerana apa, sayapun tiada tahu. Dan sampai pada hari saya menuliskan berita ini, adalah kejanggalan itu masih menjadi penghibur hati, dan kapan sahaja saya mengingat akanpada hal itu, pasti membuat diri ini merasa lucu sendiri.

Pesawat terbang Seulawah RI 01 tersebut yang merupakan hasil dari sumbangan masyarakat Aceh untuk Indonesia tempo dulu, di mana Sukarno yang merupakan prisiden pertama RI di kala waktu datang ke Aceh dan menyampaikan keluh kesahnya pada pemimpin di Aceh.

Maka dari itu, para pemimpin Aceh meminta masyarakatnya untuk menyumbangkan sedikit daripada harta mereka adalah untuk membeli sebuah pesawat terbang untuk Indonesia bagi memudahkan sekalian pejuang Indonesia menembus blokade Belanda melalui udara. Berhingga daripada itu menjadilah cikal-bakal maskapai Garuda Indonesia untuk sekarang ini.

Adapaun acara Kota Puisi, alhamdulillah berjalan dengan lancar. Sekalian Penyair merasa lega khususnya saya. Kerana di awal acara tersebut, tiadalah keberanian dari diri untuk membaca puisi di kesempatan itu. Bersabab hari libur dan hampir dari seperempat masyarakat Banda Aceh berada di lapangan itu. Duduk-duduk bersama keluarga dan adalah tujuan masing-masing dari mereka itu, nah.

Dan di jalan ketika saya dan kanda Thayeb Loh Angen tengah pulang, dari belakang kami datang seseorang yang saya dan kanda Thayeb tiada mengenal akanpada tamu misterius itu.

“Abang dari Mapesa?” tamu muda itu bertanya pada Thayeb.

“Bukan dari anggotanya, tetapi semua mereka itu rakan-rakan saya. Saya tiada berani untuk mengatakan bahawa saya anggota Mapesa,” ujarnya.

Pemuda itupun berkata bahawa ia turut menyaksikan sekalian kami yang sedang membaca puisi di bawah monumen tersebut, tetapi dari kejauhan.

Setelah percakapan singkat itu terjadi ia pun meminta diri untuk mendahului kami. Bersamaan dengan itu juga kami pun terus berjalan pulang.[]

Sekilas Hari Puisi Sedunia

Menurut laman siber Aktualita.co, Hari Puisi Dunia diperingati setiap tanggal 21 Maret. Sejarah awal dicetuskannya Hari Puisi Dunia atau World Poetry Day bermula pada penyelenggaraan pertemuan UNESCO ke-30 di Paris yang berlangsung pada Oktober – November 1999.

Dalam pertimbangannya UNESCO mengungkapkan bahwa kebutuhan estetika merupakan kebutuhan manusia dan puisi dapat memenuhi kebutuhan ini. Tak hanya itu, UNESCO juga melihat bahwa dalam 20 tahun terakhir ketertarikan pada puisi semakin meningkat dengan banyak kegiatan yang melibatkan puisi di negara-negara anggota serta bertambahnya jumlah penyair.

Peringatan Hari Puisi Dunia pertama kali dirayakan pada tahun 2000. Tak hanya itu, dipilihnya tanggal 21 Maret yang disaat bersamaan juga dirayakan sebagai Hari Penghapusan Diskriminasi Ras dianggap sebagai ide yang baik.

Setiap tahunnya, Direktur Jenderal UNESCO memberikan pesan serangkaian dengan peringatan Hari Puisi Dunia. Dalam pesannya di peringatan Hari Puisi 2016, Irina Bokova mengungkapkan bahwa Puisi menjadi simbol dari kreatifitas jiwa manusia. Puisi telah berkontribusi untuk meningkatkan jiwa kemanusiaan, meningkatkan kekuatan, solidaritas dan kesadaran diri.[]

Syukri Isa Bluka Teubai, Penyair, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar