Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai
Hari Puisi Dunia pada Tanggal 21 Maret, di tahun 2016 ini telah berlalu. Walaupun begitu sehari sebelum tanggal yang sudah menjadi sejarah bagi dunia tersebut, sekalian penyair Kota Puisi telah memperingatinya pada pagi hari Minggu, 20 Maret 2016, di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, tepatnya di bawah Monumen Pesawat Seulawah RI 01.
Kota Puisi merupakan nama dari kegiatan yang dilakukan oleh sekalian penyair di Banda Aceh, khususnya Aceh, baik Meulaboh, Lhokseumawe, dan Langsa. Acara ini merupakan acara rutin yang diadakan sebulan sekali oleh beberapa kota tersebut dan khusus di hari Minggu kerana pada hari itu merupakan hari libur.
Setelah kami sudah berada di lapangan Blang Padang Banda Aceh tersebut, tepat pada pukul sembilan lewat tiga puluh tiga menit, Hari ini kita akan membaca puisi di mana? tanya Thayeb Loh Angen.
Penulis novel Aceh 2025 ini merupakan penggagas pertama acara kota puisi, yaitu acara baca puisi keliling kota tersebut.
Untuk hari ini, kita akan membaca puisi di bawah Monumen Replika Pesawat Seulawah RI 01, ujar salah seorang penyair lainnya, Muhammaed Rain (Muhrain). Ia juga salah seorang promotor untuk acara Kota Puisi. Dan Kota Puisi ini bukan punya perseorangan atau kelompok tertentu, tiadalah ia pemilik khusus akan acara ini. Hanya digagas sahaja oleh Thayeb Loh Angen. Hanya ia.
Adalah menjadi hal yang sangat bersejarah untuk hari Minggu tanggal 20 Maret 2016, oleh sabab para penyair Kota Puisi berkesempatan memperingati Hari Puisi Dunia tersebut, tepatnya di bawah Monumen Replika Pesawat Seulawah RI 001. Dan bukan secara kebetulan akanpada acara tersebut telah berlaku di situ, menurut asumsi saya mungkin juga dengan rakan-rakan yang lainnya.
Hari ini membaca puisi seperti biasa sekaligus memperingati hari Puisi Dunia, yang menjadi luar biasa untuk kesempatan kali ini ialah kerana memebaca puisi di bawah Monumen Pesawat Pertama Indonesia, semoga sahaja kabar baik ini (para Penyair Kota Puisi Aceh memperingati hari Puisi Dunia) akan sampai kepada masyarakat Dunia, saya berguman di dalam hati sembari sebuah senyuman pahit terukir sendiri di mulut ini.
Entah kerana apa, sayapun tiada tahu. Dan sampai pada hari saya menuliskan berita ini, adalah kejanggalan itu masih menjadi penghibur hati, dan kapan sahaja saya mengingat akanpada hal itu, pasti membuat diri ini merasa lucu sendiri.
Pesawat terbang Seulawah RI 01 tersebut yang merupakan hasil dari sumbangan masyarakat Aceh untuk Indonesia tempo dulu, di mana Sukarno yang merupakan prisiden pertama RI di kala waktu datang ke Aceh dan menyampaikan keluh kesahnya pada pemimpin di Aceh.
Maka dari itu, para pemimpin Aceh meminta masyarakatnya untuk menyumbangkan sedikit daripada harta mereka adalah untuk membeli sebuah pesawat terbang untuk Indonesia bagi memudahkan sekalian pejuang Indonesia menembus blokade Belanda melalui udara. Berhingga daripada itu menjadilah cikal-bakal maskapai Garuda Indonesia untuk sekarang ini.
Adapaun acara Kota Puisi, alhamdulillah berjalan dengan lancar. Sekalian Penyair merasa lega khususnya saya. Kerana di awal acara tersebut, tiadalah keberanian dari diri untuk membaca puisi di kesempatan itu. Bersabab hari libur dan hampir dari seperempat masyarakat Banda Aceh berada di lapangan itu. Duduk-duduk bersama keluarga dan adalah tujuan masing-masing dari mereka itu, nah.