LHOKSEUMAWE – Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh Iskandar Zulkarnaen, Ph.D., berharap Martunis terus berlatih secara maksimal di Akademi Sporting Lisbon agar bisa mengikuti jejak megabintang lapangan hijau Cristiano Ronaldo. Iskandar turut berpesan agar Martunis memperkenalkan Aceh di dunia internasional.
Martunis sekarang sudah berada di Eropa, di pusat epicentrum pembinaan olahraga dunia. Jadi saya kira sekarang kesempatan bagi Martunis untuk bisa memperkenalkan Aceh di kancah internasional, ujar Iskandar ditemui portalsatu.com usai Musyawarah Besar Jurnalis Pase Football Club (JPFC) di Lhokseumawe, Sabtu, 12 Maret 2016, malam.
Iskandar juga berharap keberadaan Martunis di Portugal yang selama ini telah menarik perhatian dunia internasional turut membawa manfaat bagi pesepakbola profesional lainnya di Indonesia untuk dapat bergabung dengan klub-klub di luar negeri.
Ini kesempatan bagi dia (Martunis) untuk menggaet teman-temannya untuk bisa bermain di klub-klub profesional di luar negeri, termasuk (pesepakbola) dari Indonesia, kata Iskandar. (Baca juga: Ketika Mitologi Martunis-Ronaldo Jadi Sorotan Majalah FIFA)
Martunis lain
Iskandar menyebut Martunis mendapat berkah dari tsunami Aceh. Dia bukan melalui proses pembinaan, karena berkah dari tsunami kemudian dia mendapat kesempatan untuk bisa menempa dirinya untuk latihan di Portugal, ujarnya. (Baca juga: Cerita di Balik Berangkatnya Martunis ke Portugal)
Disinggung soal dukungan Pemerintah Aceh terhadap Martunis, Iskandar mengatakan, Kalau untuk Martunis belum, karena ini kan semuanya ditanggung oleh Ronaldo. Tapi kalau atlet-atlet lain ada. Misalnya, atlet karate kemarin juara tingkat dunia di Jerman. (Baca: Juara Dunia Karate Asal Aceh Kembali ke Kampung Halaman)
Tetapi sebenarnya banyak Martunis-Martunis lain di Aceh. Martunis-Martunis inilah yang kemudian kita godok, kita latih melalui Diklat Dispora, kata Iskandar lagi.
Iskandar menambahkan, ada beberapa pesepakbola asal Aceh yang dahulu dilatih di Paraguay kini bermain di klub-klub nasional. Tetapi mereka sudah lepas. Tidak mungkin kita mengikat mereka terus menerus, ujarnya.
Tapi yang coba kita lakukan sekarang, kita melakukan pembinaan usia dini. Kita harapkan nanti pada saat mereka remaja bisa menjadi pemain profesional, kata Iskandar.[] (idg)