TERKINI
GAYA

Perjuangan JAC, Bangun Seni Tradisi di Kota Juang

LHOKSEUMAWE - Seni tradisi Aceh dalam lima tahun terakhir dinilai mulai menggeliat. Banyak event terus digalakkan oleh Pemerintah Aceh maupun di kabupaten kota. Bahkan ada…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 969×

LHOKSEUMAWE – Seni tradisi Aceh dalam lima tahun terakhir dinilai mulai menggeliat. Banyak event terus digalakkan oleh Pemerintah Aceh maupun di kabupaten kota. Bahkan ada atraksi massal hingga memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia seperti pertunjukan saman yang ditampilkan 5.075 penari di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, November 2014 lalu.

Selain itu mulai muncul grup-grup seni tradisi di daerah-daerah yang sebelumnya nyaris tenggelam, seperti Juang Art Community (JAC).  Sanggar seni yang berbasis di Kota Bireuen ini usianya baru seumur jagung, namun prestasi yang sudah didapatkan luar biasa. Malah, JAC disebut-sebut sebagai sanggar seni yang memberi aura baru di kota pecahan wilayah Pase itu.

“Kita baru terbentuk setahun, dan selama itu pula kita berusaha untuk bangkit dari tidur panjang. Karena sebelumnya di Bireuen gaung seni tradisi kurang kuat. Malah kita selalu kalah dengan daerah lain. Sebenarnya JAC bukan milik Bireuen, tapi milik Aceh,” ujar Ivan, leader JAC usai tampil di Festival Musik Etnik se-Aceh yang diadakan DKL di ACC Unimal, Minggu, 6 November 2016.

Menurut mantan penabuh drum di grup band Bidjeh itu, JAC terbentuk berkat kesadaran beberapa alumni FKIP Unsyiah  prodi Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) yang menetap di Bireuen, mengajar seni di Sekolah Sukma Bangsa  Birueun, Pidie dan Lhokseumawe.

“Berawal dari silaturrahmi sesama alumni, dan akhirnya kita sepakat untuk membuat sebuah sanggar yang bisa mengangkat kembali seni tradisi Aceh di Kota Bireuen,” kata Ivan.

Anggota yang terlibat di JAC katanya tidak semua dari Sekolah Sukma Bangsa, namun juga direkrut dari seniman muda di Kota Bireuen yang selama ini mengekspresikan seninya di kota lain seperti Lhokseumawe dan Banda Aceh.

Usaha keras yang telah dibangun, tambah pria plontos itu  tidak sia-sia, dipercaya tampil dalam acara Festival Rapai International di Banda Aceh pada Agustus lalu, kemudian meraih juara pertama untuk lomba tari di Sabang Fair, juara 2 untuk kategori musik garapan. Tampil di Riau Hitam Putih dan masih banyak prestasi yang telah ditoreh, termasuk juara favorit di Tangloeng Festival.

Tidak hanya tari dan musik, JAC juga memiliki grup Bur’am, seni tabuh, perpaduan rapai diiringi dengan lirik religi islami. “Bur’am merupakan divisi dari JAC yang kita bangun sebagai divisi tempahan dasar di sanggar kita, alhamdulillah Bur’am mulai diterima oleh masyarakat Aceh dan sudah mendapatkan kesempatan tampil di beberapa acara besar,” jelas Ivan.

Dirinya berharap, pemerintah Aceh termasuk di kabupaten kota tidak tinggal diam, kebangkitan seni tradisi tidak akan terjadi apabila pihak pengambil kebijakan hanya duduk manis. Seniman tidak akan bisa berekspresi maksimal bila ruang gerak dibatasi.

“Seni budaya adalah identitas kita, pelestarian seni  tidak hanya ditangan seniman tetapi butuh kebijakan pemerintah yang berkelanjutan,” katanya.[]

Laporan Munir

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar