BANDA ACEH – Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar peringatan 11 tahun tsunami yang dipusatkan di Masjid Rahmatullah Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu, 26 Desember 2015.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Reza Fahlevi M.Si menyebutkan, peringatan tsunami yang dipusatkan di Masjid Rahmatullah pada tahun ini bukan tanpa alasan, mengingat kawasan Lampuuk adalah salah satu daerah terparah hantaman gelombang tsunami dan telah banyak mendapat perhatian masyarakat internasional.

“Masjid Rahmatullah adalah satu-satunya bangunan yang berhasil selamat dari gelombang Tsunami. Masjid dengan desain dan arsitekturnya yang indah ini juga telah menjadi satu-satunya masjid yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik nusantara maupun wisatawan asing lainnya khususnya wisatawan Malaysia di kawasan wisata pantai Lampuuk,” kata Reza Fahlevi melalui siaran pers yang diterima portalsatu.com, Jumat, 25 Desember 2015.

Reza menambahkan, peringatan tsunami yang mengusung tema ‘Memajukan Negeri Membangun Masyarakat Siaga Bencana’ ini juga diharapkan tidak hanya semata hanya untuk berkumpul, mengenang, bernostalgia dan berakhir begitu saja.

“Ada nilai-nilai dari setiap kegiatan peringatan tsunami yang perlu kita sampaikan ke masyarakat, yakni seperti refleksi, apresiasi, mitigasi dan promosi,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Rahmadhani M.Bus, Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, selain upacara peringatan tsunami dengan menggelar zikir bersama dan tausyiah, ia berharap masyarakat juga dapat memahami empat filosofi dalam menyadari peringatan tsunami.

“Dengan adanya refleksi, kita terus berusaha menghindari perilaku lupa akan kejadian masa lalu yang pernah terjadi di Aceh. Peringatan tsunami juga menjadi momentum penting untuk selalu mengingat dan mengenang kembali keikhlasan, dukungan dan solidaritas yang pernah diberikan masyarakat global,” kata Rahmadhani.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa masyarakat Aceh harus mampu bersahabat dengan bencana untuk mitigasi.

“Mempelajari karakteristik bencana dan membangun kesadaran dan kewaspadaan diri menuju budaya siaga bencana menjadi sebuah keniscayaan dalam upaya mengurangi segala resiko bencana yang ditimbulkan. Dengan demikian pariwisata tsunami di Aceh menjadi media efektif dalam rangka memperlihatkan kepada masyarakat global, khususnya kepada wisatawan tentang kekuatan, ketahanan dan ketabahan masyarakat Aceh selama Tsunami,” ujarnya.[] (ihn)