Allah SWT menganugerahkan kepada manusia berupa anak sebagai bentuk amanah yang harus dijaga dan dibina. Hati seorang anak merupakan permata yang sangat besar nilainya. Jika orang tua membiasakan anak pada kejahatan dan dibiarkan seperti dibiarkannya binatang umpamanya, dia akan celaka dan binasa. Sedangkan membina, memelihara dan merawatnya adalah dengan upaya pendidikan dan mengajarinya akhlak yang baik. Baik dan buruknya anak, islam maupun kafirnya anak semua tergantung kepada orang tua si anak tersebut.
Oleh karena itu orang tualah yang memegang faktor kunci yang bisa menjadikan anak tumbuh dengan jiwa islami. Begitu pentingnya peran orang tua dalam membentuk kepribadian anak di masa yang akan datang. Hal ini seperti yang di isyarahkan dalam Alquran surat Luqman ayat 16:: (Luqman berkata) Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langitatau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya) sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Luqman [31] : 16)
Para orang tua hendaknya memperhatikan anak dari segi Muraqabah Allah SWT yakni dengan menjadikan anak merasa bahwa Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraannya, melihat setiap gerak-geriknya serta mengetahui apa yang dirahasiakan dan disembunyikan.
Terutama masalah kecerdasan spiritual (SQ) anak. SQ merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi manusia. Pada saat ini kita telah mengenal adanya tiga kecerdasan. Ketiga kecerdasan itu adalah kecerdasan otak (IQ), kecerdasan hati (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).
Kecerdasan-kecerdasan tersebut memiliki fungsi masing-masing yang kita butuhkan dalam hidup di dunia ini. Dalam rangka mencapai pendidikan, Islam mengupayakan pembinaan seluruh potensi manusia secara serasi dan seimbang. Dengan terbinanya seluruh potensi manusia secara sempurna diharapkan dia dapat melaksanakan fungsi pengabdiannya sebagai khalifah di muka bumi. Untuk dapat melaksanakan pengabdian tersebut harus dibina seluruh potensi yang dimiliki yaitu potensi spiritual, kecerdasan, perasaan dan kepekaan. Potensi-potensi itu sesungguhnya merupakan kekayaan dalam diri manusia yang sangat berharga. (Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Cet ke-1 (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 51)
Ary Ginanjar Agustian memaparkan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan. Melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah menuju manusia yang seutuhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik), serta berprinsip lillahi (hanya karena Allah).
Dedhi Suharto dalam buku Quranis Quotient menyebutkan apabila dalam hidup ini ketiadaan kecerdasan ruh akan mengakibatkan hilangnya ketenangan batin, dan pada akhirnya akan mengakibatkan hilangnya kebahagiaan pada diri orang tersebut. Besarnya kecerdasan ruh lebih besar dari pada kecerdasan hati dan kecerdasan otak atau kecerdasan ruh cenedrung meliputi kecerdasan hati dan kecerdasan otak.
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa. Dia dapat membantu manusia menyembuhkan dan membangun dirinya secara utuh. Kecerdasan spiritual ini berada di bagian diri yang paling dalam yang berhubungan langsung dengan kearifan dan kesadaran, yang dengannya manusia tidak hanya mengakui nilai-nilai yang ada tetapi manusia secara kreatif menemukan nilai-nilai yang baru. Setiap manusia pada prinsipnya membutuhkan kekuatan spiritual ini, karena kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembangkan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan pengampunan mencintai, menjalin hubungan dan penuh rasa percaya dengan sang penciptanya.
Kecerdasan spiritual ini sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dia akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk membedakan yang baik dengan yang buruk, memberi manusia rasa moral dan memberi manusia kemampuan untuk menyesuaikan dirinya dengan aturan-aturan yang baru. Di samping itu, ditemukan bahwa kemampuan manusia berkomunikasi tidak terbatas pada sesama manusia saja, melainkan, juga berkomunikasi dengan suatu dzat yang dianggap sebagai Tuhan, Dewa, atau benda-benda yang diyakini mempunyai kekuatan magis.
Ada puncak tertinggi dari setiap proses kehidupan umat manusia. Bagi umat yang beragama puncak itu adalah Tuhan yang transenden. Untuk mencapai puncak itu tidak mengharuskan kita terlibat dalam dunia transenden. Bahkan realitas transenden yang sulit ditangkap oleh panca indra harus diwujudkan dalam bentuk aktivitas nyata dalam kehidupan sosial. (Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Cet ke-1 (Jakarta:Penerbit Arga 2001), h. 57)