JAKARTA – Ajang National Young Inventors Awards (NYIA) pada 26-27 September lalu mempertemukan saya dengan gadis mungil asal Sampang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Dia adalah Okti Nurhidayah, siswi kelas 11 SMA Negeri 1 Sampang. Ia menjadi salah satu dari 29 finalis di ajang tahunan ke-9 yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI.
Badannya boleh mungil, tapi prestasinya besar, sebesar rasa ingin tahunya akan berbagai hal. Beberapa waktu lalu saya berbincang banyak dengannya melalui sambungan telepon.
Kata yang paling tepat untuk menggambarkan dirinya adalah kepo. Iya kata itu sering digunakan oleh anak zaman sekarang untuk menggambarkan orang lain yang memiliki keingintahuan tinggi pada suatu hal. Dan Okti ini salah satunya.
Saat kecil ia pernah menonton sebuah video tantenya. Di dalamnya ada seorang ilmuwan khas dengan jas putihnya. Dari situ ia mulai memiliki ketertarikan untuk menjadi seperti apa yang dilihatnya di video itu, menjadi seorang ilmuwan.
Mimpinya itu masih terus ia pegang, tapi baru ketika SMA minatnya itu tersalurkan. Melalui ekstrakurikuler karya ilmiah, ia mulai menjadi ilmuwan. Rasa keingintahuannya yang besar membawanya pada sebuah penelitian. Pada 2015 lalu, perempuan kelahiran 15 Oktober 1999 ini membuat penelitian tentang perilaku semut.
Hal itu berawal saat ia tengah bersantai di depan rumah, lalu ia melihat semut yang berlalu lalang. Rasa kepo-nya itu membuatnya ingin terus mengamati apa yang semut itu lakukan. Masyarakat luas memiliki sebuah peribahasa Di mana ada gula di situ ada semut. Tapi penelitian dari Okti mengubah anggapan itu menjadi Di mana ada bangkai disitu ada semut.
Okti melakukan percobaan dengan menaruh sebuah bangkai kepompong dan juga gula. Ternyata semut lebih banyak mendekati bangkai kepompong tersebut.
Penelitiannya tak berhenti pada persoalan semut. Suatu ketika banyak warga di desanya terkena penyakit demam berdarah. Ia mulai berpikir untuk membuat sesuatu yang dapat mengatasi itu.
Terciptalah Sampo Bandotan. Sampo yang dapat membasmi jentik nyamuk.
Ia juga pernah membuat penelitian terkait bagaimana menghilangkan kantuk dengan cara membaca ayat suci Al-Quran.
Tak berhenti di situ, terakhir pada 2016 ia membuat Teko ajaib penjernih air. (Baca: Teko Ajaib Penjernih Air dari Cibebek). Dan ia berhasil menjadi finalis di kompetisi tingkat nasional.
Berbagai karyanya ini sempat ia ikutkan di berbagai kompetisi karya ilmiah di berbagai kampus di Indonesia. Seperti Lomba Karya Ilmiah Universitas Internasional Semen Indonesia Gresik, Lomba Karya Ilmiah Institut Sains dan Teknologi Jogja, Lomba Karya Ilmiah Universitas Jenderal Soedirman, dan lain-lain.
Ia juga pernah mengikuti pameran di EXPO Inovasi Teknologi di Cilacap, Lomba Karya Ilmiah Teknologi Tepat Guna di Bappeda Cilacap. Ia bahkan pernah menjadi bintang tamu di salah satu program televisi Jakarta untuk karya tekonya.
Meskipun tak sampai menjadi juara. Okti tak pernah berhenti untuk terus meneliti. Baginya yang terpenting adalah ia dapat menemukan dan menciptakan hal baru yang bermanfaat untuk orang lain.
Ia juga masih memiliki banyak ide di otaknya. Namun ketika ditanya apa, ia masih merahasiakannya. Ia akan menyimpannya untuk kompetisi NYIA di tahun 2017 mendatang. Ketika lulus nanti ia ingin meneruskan kuliah di bidang MIPA dan bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjadi peneliti.[]Sumber:cnnindonesia.com