ORLANDO – Pihak berwenang Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka tidak menemukan hubungan langsung antara militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dengan Omar Mateen, pria bersenjata yang membunuh 49 orang di sebuah kelab malam gay di Orlando. Otoritas ini menilai penembakan massal yang dilakukan Omar Mateen adalah penembakan massal terburuk dalam sejarah AS modern.

Federal Bereau Investigation (FBI) dan badan-badan lainnya masih mencari bukti-bukti mendalam di sekitar Pulse Nightclub. Otoritas tersebut menggambarkan Omar Mateen sebagai seorang ekstrimis homegrown yang terinspirasi oleh kelompok-kelompok Islam radikal. Mateen, laki-laki 29 tahun, imigran asal Afghanistan, ditembak mati setelah pengepungan tiga jam.

“Sejauh ini, kita melihat ada indikasi bahwa ini diarahkan dari luar Amerika Serikat dan kami melihat ada indikasi bahwa dia adalah bagian dari jaringan tertentu,” kata Direktur FBI James Comey di Washington seperti dilansir Reuters. “Kami sangat yakin pembunuh ini radikal,” kata James lagi.

Sebelumnya, Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim sebagai dalang di balik serangan mematikan di sebuah kelab malam gay, pada Ahad 12 Juni 2016. Aksi Mateen tersebut mengakibatkan 50 orang tewas dan 57 lainnya terluka.

Melalui agensi berita mereka, Amaq, mereka menyebut bahwa Omar Mateen, pelaku penembakan, adalah salah satu pejuang mereka. “Serangan bersenjata yang menargetkan kelab malam gay di Kota Orlando, Florida, yang menyebabkan lebih dari 100 orang tewas atau terluka, dilakukan oleh pejuang ISIS,” tulis berita Amaq seperti dikutip oleh Daily Mail, Senin kemarin.

Omar Mateen adalah imigran Afghanistan yang tinggal Port St. Lucile di Florida. Bagi FBI, sosok Omar tidak asing lagi. Omar sudah dua kali diinvestigasi sebelum penembakan, namun akhirnya dilepaskan. Salah satu agen FBI Ronald Hooper mengatakan senjata yang digunakan adalah AR-15 dan sebuah pistol tangan. “Mateen sudah membeli setidaknya dua senjata api secara legal dalam satu minggu terakhir,” kata Hooper seperti dikutip Daily Mail.[]Sumber:TEMPO.CO