BANDA ACEH – Para aktivis yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Shubuh (GPS) sepakat menyimpulkan bahwa praktek _money politic_ atau politik uang dalam Pilkada merupakan ancaman besar bagi demokrasi di Aceh.
Hal tersebut mengemuka dalam dialog NGOPI (Ngobrol Opini Terkini) yang diselenggarakan GPS yang bekerjasama dengan Fraksi Pilkada dan Jaringan Survey Inisiatif (JSI) dan menghadirkan Redpel Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika, Kantin Smea, Banda Aceh, Sabtu pagi, (25/2).
Dalam dialog dengan tema “Proyeksi Aceh pasca Pilkada” ini, peserta dialog mendiskusikan tantangan terbesar yang akan dihadapi Aceh ke depan jika praktek _money politic_ ini bisa lepas dari jeratan hukum yang berlaku.
Hal tersebut disampaikan koordinator GPS, Irhamullah seusai dialog.
“Kalau _money politic_ dalam Pilkada tidak diusut tuntas, maka tidak mustahil ke depan bandar narkoba pun akan bisa membeli kursi kekuasaan, karena semuanya telah diukur dengan uang, ” ujar Irhamullah menyampaikan kesimpulan diskusi.
Untuk itu, kata mantan ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh ini, pihaknya mendesak pihak terkait untuk menindak setiap dugaan praktek _money politic_ dalam Pilkada yang sudah berlangsung beberapa waktu lalu.
Tujuannya, kata Irhamullah, adalah agar praktek yang bertentangan dengan hukum ini tidak membudaya di kemudian hari.
Sementara itu, Yarmen Dinamika dalam paparannya menjelaskan panjang lebar proyeksi masa depan Aceh pasca Pilkada. Selain mengajak para pemuda dan mahasiswa untuk mengontrol jalannya pemerintahan Aceh ke depan, Yarmen juga menjelaskan panjang lebar seputar dinamika yang dihadapi Harian Serambi Indonesia di musim pilkada yang telah berjalan.
“Saya berharap setiap tahun nanti dibuat dialog untuk mengevaluasi sejauh mana janji-janji pemerintah telah diimplementasikan, ” ujar Yarmen mengusulkan.
Gerakan Pemuda Shubuh adalah komunitas pemuda di Banda Aceh yang terdiri dari berbagai segmen pemuda dan mahasiswa, dibentuk sejak beberapa tahun lalu.
Selain menyeru kepada shalat shubuh berjamaah, komunitas ini juga menyelenggarakan dialog rutin setiap pagi sabtu setelah shalat shubuh berjamaah dengan mengundang pembicara dari berbagai kalangan mendiskusikan berbagai tema aktual di Aceh.[]