Oleh: Muammar
Pemilihan Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala tinggal menghitung hari. Berdasarkan keputusan Komisi Pemilihan Raya (KPR), selaku panitia pelaksana, Pemilihan Raya (PEMIRA) akan dilangsungkan pada Selasa, 22 Desember 2015 mendatang.
Para calon yang telah mendaftar dan lulus seleksi administrasi sebagai calon Ketua Umum BEM sudah mulai terbaca. Ada beberapa fakultas menjagokan calonnya masing-masing seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian dan FKIP.
Pertarungan politik mahasiswa pada pesta demokrasi kali ini akan sengit, mengingat fakultas yang terlibat langsung di dalamnya adalah fakultas-fakultas besar di Unsyiah, seperti Fakultas Ekonomi yang dikenal sebagai Fakultas tertua dan FKIP sebagai fakultas terbanyak mahasiswa di Unsyiah.
Begitu juga dengan Fakultas Hukum yang dikenal akan kelihaian politiknya dan Fakultas Pertanian yang teruji kekompakannya. Sistem koalisi antarafakultas pun tidak terelakkan akan terjadi, mengingat masih ada delapan fakultas lagi di Unsyiah yang masih belum tahu memihak ke arah mana pada Pemira kali ini.
Memang tidak mengherankan ketika koalisi tersebut terjadi, mengingat untuk memperoleh kursi nomor satu di jajaran BEM Unsyiah dibutuhkan suara yang banyak.
Sebagai pembelajaran politik memang sangat bagus jika hal ini diterapkan sesuai dengan prosedur dan sebagai ajang menjalin silaturahmi antarfakultas demi tujuan bersama, yaitu membangun BEM ke arah yang lebih baik.
Mengingat kondisi hari ini keadaan mahasiswa Unsyiah sangat semrawut dengan masalah-masalah intern-nya sehingga yang terlihat sekarang adalah mahasiswa-mahasiswa yang apatis, tidak mau tahu akan apa yang terjadi di sekitar.
Mahasiswa hanya fokus pada dunia akademik, kegiatan asal ada sebagai pencitraan, budaya takut yang berlebihan terhadap penguasa kampus, khususnya terhadap dosen-dosen dan para rektorat.
Kondisi terburuk dari permasalahan ini adalah kevakuman mahasiswa dalam pergerakan, khususnya pergerakan yang menentang ketidakjelasan yang terjadi di depan mata.
Pergerakan Mahasiswa dalam Lintasan Sejarah
Indonesia terbentuk tidak terlepas dari peran generasi muda, khususnya para mahasiswa yang yang tergabung dalam organisasi-organisasi pada masa Hindia Belanda.
Sebelumnya, pergerakan perlawanan yang dilakukan oleh orang pribumi masih terpusat pada kedaerahan. Contohnya, perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa, pergerakan Teuku Imam Bonjol di Sumatera Utara, bahkan perlawanan Teuku Chik Ditiro, Teuku Umar dan Tjoet Nyak Dhien di Aceh. Perjuangan para pahlawan itu belum memikirkan Indonesia, tetapi untuk membebaskan daerah atau kerajaannya dari penjajahan Belanda.
Perjuangan untuk Indonesia lahir ketika generasi muda yang bersekolah pada sekolah-sekolah Belanda mulai sadar bahwa perjuangan secara fisik tidak bisa lagi dilakukan terhadap Belanda.
Generasi muda itulah yang kemudian mengubah pola pergerakan perlawanan di Indonesia. Mereka sudah mulai memikirkan persatuan secara keseluruhan tanah jajahan untuk dapat mengalahkan Belanda.
Puncaknya adalah ketika organisasi Budi Utomo sebagai organisasi modern pertama didirikan di Indonesia pada 20 Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan dr. Sutomo. Walaupun pergerakan awalnya merintis mengadakan kampanye menghimpun dana pelajar (Studie Fund) di kalangan priyayi yang berpusat di daerah Jawa dan Madura, konsep keindonesiaan sudah mulai terbentuk pada waktu itu. Tanggal terbentuknya organisasi ini kemudian ditetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional.
Selanjutnya, organisasi-organisasi modern lainnya ikut menyusul seperti Sarekat Islam (SI) pada 1911. Organisasi ini merupakan perkumpulan para pedagang Islam yang bertujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam.
Ada pula organisasi Indische Partij (IP) yang didirikan pada 1912 di Bandung. Organisasi yang dibentuk oleh tiga Serangkai, yakni Douwes Dekker (Setyabudi Danudirjo), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) mempunyai cita-cita menyatukan semua golongan di Indonesia, baik Indonesia asli maupun Indo, Cina, Arab, dan sebagainya.
Di tahun yang sama terbentuk organisasi Muhammadiyah. Selain dua organisasi tersebut, ada pula Perhimpunan Indonesia (PI) yang terbentuk pada 1925, Pemuda Indonesia, PKI dan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927, dan beberapa organisasi lainnya yang tujuan utamanya tetap menyuarakan Indonesia sebagai bangsa yang harus dimerdekakan dari penjajahan Belanda.
Tidak jarang, para tokoh pergerakan yang terlibat dalam organisasi tersebut keluar-masuk penjara dan diasingkan. Hal ini seperti yang dialami oleh Soekarno yang selama empat tahun (14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938) diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Ende, salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur.
Setelah merdeka, pergerakan mahasiswa juga tidak berhenti di situ. Usaha-usaha mempertahankan kemerdekaan tetap menjadi prioritas mahasiswa-mahasiswa di Indonesia.
Seperti peristiwa Rengasdengklok yang mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Setelah agresi militer pada 1947 dan 1948, kebutuhan adanya aliansi antarkelompok mahasiswa dirasakan cukup kuat.
Pada 1947, kongres mahasiswa pertama di Malang mendeklarasikan kelahiran Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan pada tahun yang sama juga Himpunan Mahasiswa Islam didirikan di Yogyakarta atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia (UII). Bahkan pendirian Orde Baru Periode 1965-1966 juga tidak terlepas dari pergerakan mahasiswa.
Setelah Orde Lama digantikan oleh Orde Baru pada 1966, pergerakan mahasiswa sudah mulai dikekang. Rezim Soeharto yang berkuasa sangat mengawasi pergerakan mahasiswa.
Setiap pergerakan yang mencurigakan akan dituduh makar dan tidak jarang yang dijebloskan ke dalam penjara. Namun, karena perekonomian Indonesia semakin memburuk (puncaknya ketika krisis moneter menimpa Asia pada tahun 1997), ditambah lagi kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) sangat tinggi, rasa ingin menurunkan rezim Orde Baru pada waktu itu sangat tinggi di kalangan mahasiswa.
Niat tersebut kemudian diwujudkan pada 1998 dengan melakukan aksi besar-besaran hampir di seluruh Indonesia sehingga pada Mei 1998, Soeharto terpaksa turun dari jabatan kepresidenan setelah 32 tahun lamanya berkuasa.
Mahasiswa Era Reformasi
Pergerakan Mahasiswa setelah reformasi cenderung menciptakan problematika yang akan menarik perhatian pihak ketiga untuk bermain dalam setiap kegiatan yang dilakukan mahasiswa.
Kebebasan pergerakan didapatkan kembali sesudah rezim yang mengekang berhasil dijatuhkan. Problematika ini tidak terlepas dari bebasnya para penguasa memainkan kepentingan dari mahasiswa. Penyebabnya, tokoh-tokoh pada saat ini adalah mantan mahasiswa yang berperan penting dalam penggulingan Orde Baru. Jadi, ada celah bagi mereka untuk tetap mengambil pengaruh dalam kehidupan mahasiswa pada saat ini.
Tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada pesta Pemira kali ini karena memang sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap pergerakan mahasiswa pasti dipelopori oleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Seperti pada 2017 akan datang adalah tahun diselenggarakannya pemilihan kepala daerah di Aceh. Momen ini sudah tentu dijadikan kesempatan oleh para pemain politik di kampus maupun sebaliknya seperti partai politik untuk terlibat dalam politik praktis pada Pemira kali ini.
Untuk itu mahasiswa harus tegas kali ini, harus menunjukkan jati dirinya sebagai pihak yang mempunyai idealisme yang tinggi sebagai mahasiswa yang berpatokan pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Siapa pun yang terlibat dalam politik praktis harus dijadikan musuh bersama oleh mahasiswa yang masih mempunyai idealisme dalam dirinya. Setiap lembaga harus dibersihkan dari kotoran politik ini karena memang tidak sepantasnya organisasi mahasiswa dijadikan tunggangan oleh partai dan pelaku politik di luar sana.
Mahasiswa Unsyiah harus bersatu dalam hal ini. BEM Unsyiah sebagai lembaga organisasi tertinggi di kalangan mahasiswa Unsyiah harus mampu menampung aspirasi persatuan ini.
Upaya pembungkaman pergerakan mahasiswa yang telah terstruktur selama ini harus dihancurkan. BEM Unsyiah harus menjadi pelopor pertama dalam membangkitkan kembali pergerakan, mengingat semua aspirasi mahasiswa tertampung di situ. Ini karena tugas BEM yang sesungguhnya, selain membangkitkan kreativitas mahasiswa, juga menjadi pengontrol di dalam kampus isu-isu sosial di masyarakat.
*Penulis adalah Muammar, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, FKIP Unsyiah yang juga Kandidat Ketua BEM Unsyiah 2015-2016.