TERKINI
PROFIL

Pemimpin, Ini Cara Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan dan Citra Rumah Sakit

Citra pelayanan kesehatan di Aceh beberapa tahun ini semakin menurun. Indikasinya, minat masyarakat berobat ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura semakin tinggi.

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 6 menit
SUDAH DIBACA 15.1K×

oleh Ns. Edi Ardiansyah, S.Kep.*

Aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia antara lain adalah kesehatan. Setiap orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh kesehatan yang prima. Seseorang yang menderita sakit biasanya akan berusaha untuk mengatasi dan mengobati penyakit yang dideritanya hingga sembuh. Seseorang dalam mencapai kesembuhan yang diharapkannya terkadang membutuhkan bantuan dari pihak lain, dalam hal ini adalah rumah sakit. Rumah sakit merupakan salah satu instansi yang berwenang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat luas. Keadaan ini membuat rumah sakit perlu memperhatikan kualitas pelayanan yang ditawarkan kepada pasien yang akan menggunakan jasa rumah sakit sehingga mereka merasakan kepuasan terhadap kualitas yang ditawarkan (Zahrotul, 2008).

Rumah sakit di Indonesia terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Jika dahulu rumah sakit hanya didirikan oleh badan-badan keagamaan, sosial ataupun pemerintah (nonprofit oriented), sekarang banyak didirikan oleh berbagai badan usaha swasta yang usahanya berorientasi pada laba (profit oriented).

Rumah sakit merupakan unit usaha pelayanan kesehatan yang berfungsi sosial, tetapi harus dikelola secara profesional. Berbicara tentang kualitas pelayanan, rumah sakit pada dasarnya bertujuan memberikan kepuasan bagi pasiennya. Dalam konsep perspektif mutu total (perspectif total quality) dikatakan bahwa pasien merupakan penilai terakhir dari kualitas sehingga kualitas dapat dijadikan salah satu senjata untuk mempertahankan pasien di masa yang akan datang. Kualitas pelayanan sangat penting dalam meningkatkan kepuasan pasien dan dengan sendirinya akan menumbuhkan citra rumah sakit tersebut.

Menurut (Kotler, 2003), citra merupakan seperangkat kepercayaan, daya ingat, dan kesan-kesan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek. Lantas menurut  Gonroons  (2000), citra rumah sakit merupakan wujud nyata dari persepsi pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan melalui apa yang diperoleh pelanggan sebagai hasil dari transaksi antara penyedia dan pengguna jasa serta bagaimana pelanggan memperoleh jasa tersebut. Citra yang buruk atau negatif akan memberikan pengaruh yang buruk pula terhadap  perusahaan/rumah sakit,  sebaliknya  citra  yang  baik  akan memberikan  pengaruh  yang  baik  pula pada organisasi.

Citra pelayanan kesehatan di Aceh beberapa tahun ini semakin menurun. Indikasinya, minat masyarakat berobat ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura semakin tinggi. Kecenderungan masyarakat berobat ke luar negeri secara umum disebabkan oleh faktor kelengkapan fasilitas dan kualitas pelayanan yang diberikan telah memenuhi harapan pasien. Indikasi kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit dapat tercermin dari persepsi pasien atas pelayanan kesehatan yang telah diterimanya. Persepsi pasien/pelanggan tentang kualitas pelayanan merupakan penilaian menyeluruh atas keunggulan suatu jasa atau pelayanan. Menurut Gummesson, persepsi pelanggan terhadap kualitas total akan mempengaruhi citra perusahaan dalam benak pelanggan (Tjiptono, 2004).Kualitas pelayanan sangat penting dalam meningkatkan kepuasan pasien dan dengan sendirinya akan menumbuhkan citra rumah sakit tersebut.

Dari data yang didapatkan dari hasil survei Medical Tourism  Malaka diperoleh data bahwa pada 2011 57% pengguna jasa kesehatan di Malaysia yang berasal dari luar negeri merupakan masyarakat yang  berasal dari Indonesia. Pasien yang berdomisili di Aceh lebih memilih berobat ke Malaysia karena jarak yang tidak begitu jauh dari Aceh. Mungkin secara biaya juga lebih murah, begitu juga dari Sumut ke Malaysia jauh lebih murah dibanding harus ke kota lainnya di Indonesia.

Salah satu kelebihannya jika pasien merasa cocok dengan tawaran, rumah sakit tersebut akan memfasilitasinya. Staf-staf marketing akan menjemput pasien di bandara kedatangan dengan keramahan yang ‘profesional’. Jika punya uang lebih, berbagai paket wisata dapat dipesan seraya menunggu selesainya pengobatan. Seperti di Aceh, beberapa kantor perwakilan pemasaran rumah sakit di Malaysia pun telah berdiri dan membuka cabangnya. Salah satu di antaranya adalah KPJ (Kumpulan Perubatan Johor) Tawakkal Specialist Hospital Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka siap antarjemput pasien di Aceh tanpa melalui calo, jasa informasi, dan konsultasi pun gratis.

Rumah sakit lain yang sudah membuka kantor cabang pemasarannya di Banda Aceh adalah LohGuanLye Specialists Centre Penang. Mereka juga katanya berpromosi, punya kemampuan terapi lebih baik  menyembuhkan orang bisu agar bisa mendengar dan berbicara.

 

Banyak hal yang membuat warga Aceh lebih tertarik berobat ke Malaysia. Beberapa orang yang ditanyai mengaku terkait dengan kompetensi, integritas, dan pelayanan tenaga medis di Aceh/Indonesia yang dinilai masih kurang. Namun, jawaban tersebut belum tentu mewakili suara mayoritas.

 

Hal ini menjadi tantangan bagi pemegang kekuasaan di Indonesia, khususnya Aceh dan juga menjadi pekerjaan rumah bagi para pemimpin di rumah sakit untuk memperbaiki kualitas pelayanannya dengan segera. Dengan semakin kritisnya masyarakat saat ini terhadap pelayanan kesehatan yang diterimanya dan semakin ketatnya persaingan di era pasar bebas, banyak hal dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit yang harus dibenahi, khususnya kualitas pelayanan.

Hal yang perlu dilakukan

Morrow (1997) mengatakan, rumah sakit harus fokus kepada pelanggan, yaitu “Upaya untuk memahami, menjalin hubungan yang erat dan mencari masukan-masukan dari pelanggan secara teratur”.

Salah satu pendekatan kualitas pelayanan yang populer dijadikan acuan dalam riset pemasaran adalah model Servqual (service quality) yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1990). Servqual dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi pelanggan atas layanan nyata yang mereka terima (perceived service) dengan layanan yang sesungguhnya yang diharapkan/diinginkan (expected service). Servqual ini merupakan skala multi-item yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengukur persepsi pelanggan atas kualitas layanan meliputi 5 dimensi, yaitu:

  1. (kehandalan), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan.
  2. (daya tanggap), yaitu kemampuan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap.
  3. , yaitu kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki oleh para staf, bebas dari bahaya, risiko dan keragu-raguan.
  4. , yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan pelanggan.
  5. , yaitu fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi.

Hal ini sesuai dengan pendapat Assauri (2003:28) yang menyatakan bahwa dimensi mutu dari suatu jasa atau pelayanan tidak terlepas dari penilaian atas komponen jasa dari produk yang ditawarkan, di mana di antaranya yang terpenting adalah sistem penyampaian jasa tersebut (service delivery system).

Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa kualitas layanan tidak hanya ditentukan oleh satu faktor seperti kemampuan karyawan ketika menghadapi pelanggan. Akan tetapi, lebih penting lagi bagaimana rumah sakit dengan segala sumber daya yang dimilikinya dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan. Selanjutnya, kepuasan pelanggan akan muncul apabila sesuatu yang mereka harapkan dari layanan jasa tertentu terpenuhi. Dengan kata lain, antara harapan dengan layanan yang mereka rasakan tidak berbeda sama sekali.

Perbaikan internal rumah sakit

Untuk meningkatkan perbaikan rumah sakit, PATH dapat digunakan karena PATH dirancang untuk penggunaan internal secara sukarela, bukan untuk pelaporan, akreditasi atau restrukturisasi tujuan eksternal. Tujuan PATH adalah mendukung rumah sakit menilai kinerja mereka, mempertanyakan hasil mereka sendiri, dan menerjemahkannya ke dalam tindakan untuk perbaikan. Kerangka konsep dari PATH terdiri dari 6 (enam) dimensi, yaitu clinical effectiveness (efektivitas klinis), effeciency (efisiensi), staff orientation (orientasi staf), responsive governance (respons tata pemerintahan), safety (keamanan), dan patient centerednes (keterpusatan pasien).

Komitment para pemimpin dan dukungan dari pemerintah

Dengan baru selesainya pilkada serentak yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Aceh, kita berharap pemimpin yang terpilih kali ini mempunyai komitmen kuat dalam membangun kualitas pelayanan kesehatan di Aceh, bukan hanya sebuah janji manis saja.  Diharapkan juga, pemimpin terpilih nantinya bakal membuat sistem yang kuat dan mengalokasikan anggaran untuk membeli alat-alat medis yang kita ketahui sangat mahal harganya.

Diharapkan para pemimpin rumah sakit mempunyai komitmen dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan dengan menerapkan beberapa konsep seperti penulis paparkan di atas. Penulis juga berharap kualitas rumah sakit kita dapat sesegera mungkin menjadi lebih baik lagi dan dapat bersaing dengan rumah sakit – rumah sakit di Asia dalam memberikan pelayanan kepada pasien.[]

*Ns. Edi Ardiansyah, S.Kep. adalah Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar