DEBAT kandidat calon gubernur/wakil gubernur Aceh ketiga yang dibuat oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh telah usai. Acara itu berlangsung di Amel Convention, Lambhuk, Banda Aceh, dan disiarkan langsung oleh INews TV, Selasa 31 Januari 2017, pukul 13.30 WIB 15.30 WIB.
Dalam acara itu, pemandu acara meminta para Calon Gubernur Aceh untuk mengatakan solusi (cara mereka) membuat pemerintah yang bersih dan jujur. Hanya beberapa Calon Gubernur Aceh yang menjawab tapi mengambang, dan beberapa yang lain bahkan tidak menjawabnya.
Dengan kenyataan ini, maka saya memperkirakan bahwasanya semua Calon Gubernur Aceh belum/tidak memiliki rencana atau cara bagaimana menghentikan korupsi di pemerintahan Aceh.
Bagaimana kejahatan seperti jual beli jabatan yang diduga ada sekarang bisa dihentikan? Tidak ada yang menjawabnya. Bagaimana permainan proyek dari SKPA (Satuan Kerja Pemerintah Aceh) dengan rekanan sehingga proyek asal jadi dan rugi rakyat yang diduga ada sekarang bisa dihentikan? Tidak ada yang menjelaskannya.
Bagaimana supaya uang dari APBA (Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh) digunakan dalam jumlah yang lebih besar untuk kepentingan rakyat? Tidak ada yang menjelaskannya.
Bagaimana supaya kebutuhan energi, seperti listrik, lancar di Aceh? Tidak ada yang memberikan cara menyesaikannya. Tidak ada yang bicara secara logis dan terukur untuk membuat semua rakyat Aceh memiliki penghasilan memadai. Belum ada. Lalu, untuk apa kita memilih para Calon Gubernur Aceh itu?
Saya ingin, ada di antara Calon Gubernur Aceh itu yang mengatakan, Untuk pemerintahan yang bersih, saya akan memotong belanja sia-sia di SKPA dan mengalihkannya untu keperluan ekonomi rakyat, kita akan memantau setiap perjalanan proyek dari sumber APBA. Sedikit saja melanggar, petugas diberhentikan.
Saya ingin, ada Calon Gubernur Aceh itu mengatakan, Kami memastikan, insya Allah, tiga bulan sejak kami dilantik dan seterusnya, listrik akan menyala selama 24 jam dalam sehari di Aceh. Saya mencarikan solusi dengan pimpinan PLN di Jakarta dan Aceh tentang itu, kalau mereka tidak ada solusi, kita cari solusi sendiri, misalnya dengan mendatangkan kapal pembangkit listik dari Turki.
Begitulah, dan berbagai hal lain seperti meningkatkan nilai dan guna pendidikan, memperbaiki kesehatan rakyat, melestarikan kebudayaan, menguatkan kembali nilai Islam dalam sistem pemerintahan dan masyarakat, tidak ada solusi yang tepat dari dari mereka supaya Aceh sampai ke tingkat peradaban tinggi kembali. Saya kecewa dengan para Calon Gubernur Aceh itu.
Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan dan politik, pencetus Aceh Muda