Oleh: Ratna Sari*

Solidaritas Perempuan Aceh (SP-Aceh) menggelar serangkaian aksi kegiatan dalam rangka memperingati Hari Air Dunia pada Rabu, 22 Maret 2017 lalu.

Bertajuk “Water Is Life; Selamatkan Kawasan Karst, Lindungi Sumber Mata Air”, kegiatan ini terselanggara atas kerjasama SP-Aceh dengan komunitas muda dan perempuan akar rumput di dua kecamatan, Lhok Nga dan Leupung, Aceh Besar. Total sebanyak 70 peserta ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Sejak pukul 10:00 WIB, para peserta mengadakan fieldtrip ke sekitar kawasan karst, salah satunya ke wilayah penambangan batu kapur. Kunjungan ini untuk melihat sejauh mana proses eksploitasi penambangan dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan di sekitar penambangan tersebut.

Lalu, siang harinya para peserta singgah ke Pucok Krueng, wilayah yang merupakan satu-satunya kawasan karst di Lhoknga, Aceh Besar yang letaknya tidak jauh dari proses penambangan terjadi. Di sana para peserta mengadakan diskusi bersama tokoh masyarakat Gampông Naga Umbang, M Amin. Selain itu, juga hadir Abdillah Imron Nasution, akademisi dan ahli karst Aceh.

Para peserta tampak antusias dalam diskusi. Hal ini tampak dari proses tanya jawab yang berlangsung saat diskusi. Baik perempuan akar rumput dan pemuda dari berbagai komunitas mengungkapkan rasa ingin tahunya terhadap sejarah Pucok Krueng.

M Amin selaku tetua Gampông Naga Umbang bercerita banyak soal kondisi Pucok Krueng dari tahun ke tahun. Dulu, kata beliau, debit air di Pucok Krueng kian melimpah. Hal itu sangat berbeda dengan pemandangan yang terlihat kini, Pucok Krueng sudah semakin dangkal.

“Dulu masyarakat sekitar sini banyak yang mencari kerang, untuk mereka jual. Beragam jenis ikan juga banyak di sini, sekarang semuanya langka,” ujarnya.

Ahli karst Aceh Imron menuturkan, salah satu faktor yang menyebabkan berkurangnya debit air di Pucok Krueng adalah rusaknya vegetasi di sekitar kawasan karst ini. “Rusaknya vegetasi bisa beberapa sebab, di antaranya akibat ilegal logging dan kegiatan tambang di sekitar wilayah karst,” ucap Imron.

Pada akhirnya dampak yang ditimbulkan selain langkanya beberapa spesies hewan, juga berkurangnya sumber mata air dan masyarakat mengalami krisis air.

Berdasarkan data pemantauan yang dilakukan SP-Aceh bersama 1300 perempuan di akar rumput di Kecamatan Lhoknga dan Leupung, kelangkaan air sudah sangat meresahkan masyarakat khususnya perempuan yang sehari-hari sangat dekat air dalam melakukan aktivitas rumah tangga, belum lagi untuk kesehatan reproduksi yang membutuhkan banyak air.

Dari pemantauan didapat bahwa 57% warga yang tinggal di sekitar perusahaan di Lhoknga menjawab bahwa ketersediaan air ada, tetapi tidak setiap saat ada dan dengan jumlah yang tidak mencukupi. Apa yang terjadi dengan perempuan? Karena kebutuhan rumah tangga sering dibebankan oleh perempuan, perempuan terpaksa harus menunggu air keluar hingga larut malam.

“Saya capek karena saya harus mengangkat air dan sering juga menunggu air hingga pukul 12:00 sampai pukul 01:00 malam,“ ujar salah seorang ibu dari kampung Deah Mamplam, Kecamatan Leupung Aceh Besar.

Bahkan sudah lebih 3 bulan, di beberapa desa di Kecamatan Leupung tidak ada ketersediaan air sama sekali.

Bagaimana akses terhadap biaya berdasarkan sumber utama air? 72% Mayoritas perempuan menilai bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk mendapatkan air adalah MAHAL. Karena kualitas yang buruk dan ketersediaan air yang tidak jelas, masyarakat terpaksa mengeluarkan biaya lebih mahal untuk membeli air, membayar listrik untuk menarik air dari sumur yang dalam karena letak rumah mereka di pengunungan. Bahkan mereka harus membayar transportasi untuk membawa mereka menyuci ke sumber mata air/sungai.

Bertepatan dengan momen Hari Air Dunia ini, SP Aceh bersama perempuan akar rumput meminta Pemerintah Aceh, pemerintahan kabupaten/kota serta instansi terkait, dapat memenuhi pemenuhan hak dasar perempuan yaitu hak atas air yang semakin sulit diperoleh dan tidak terjangkau oleh perempuan.

Masyarakat juga berharap bahwa pengelolaan sumber air dalam dilakukan oleh masyarakat sendiri tanpa campur tangan perusahaan yang hanya memberikan “janji-janji palsu”.[]

 

*Ketua SP Aceh