Oleh Taufik Sentana*
Setiap kita adalah pelanggan setia.
Kesetiaan kita pada kepentingan, keinginan dan makna makna.
Wlalau nyatanya, kita tidak pernah
benar benar setia. Kebanyakan kita hanya berdusta.
Tapi kita tetap menjadi pelanggan.
Setia pada jaminan sosial,
setia pada persekongkolan
setia pada warna layar kaca
setia pada konsumerisme
setia pada gaya dan komoditi
setia pada hegemoni
dan setia pada harapan harapan.
Tapi bisakah kita benar benar setia?
Kita hanyalah pelanggan
dalam rantai sosial yang padat, garang
dan mencekam. Untuk itu ada yang sengaja menjadi predator, atau
ada yang tersudut di bawah kasta rantai makanan, menjadi lapuk, menjadi menjadi limbah, menjadi uap: Terjebak dalam piramida sosial yang terbalik.
Namun predator puncak sekalipun, atau penguasa arus massa, atau pemilik modal, atau apalah namanya. Tetaplah sebagai pelanggan. Pelanggan pada kehampaannya, pelanggan pada naluri naluri rendah yang disangka cawan surga. Entah, apakah ia akan cukup setia?