JAKARTA — Dari pelabuhan embarkasi di nusantara dan Singapura itulah, jamaah haji nusantara berangkat ke Jeddah. Ketika masih menggunakan kapal layar dan kapal dagang, perjalanan ke Jeddah dilakukan dengan melewati pelabuhan-pelabuhan tertentu di Samudra India dan Laut Merah, baik untuk sekadar transit maupun transfer. Penetapan transit atau transfer oleh nakhoda kapal sangat tergantung pada keadaan angin dan pasar bagi komoditas yang diangkut atau diperlukan.
Pelabuhan transit atau transfer ini diungkapkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dalam karyanya Kisah Pelayaran Abdullah. Ia menuturkan bahwa Kapal Subulassalam yang ditumpanginya berangkat dari Singapura pada 29 Jumadil Awwal 1273 H/1854 M. Setelah beberapa hari berlayar, mereka tiba di Kota Alfiah, sebuah kota yang sebagian penduduknya adalah Muslim dan sebagian lagi Hindu. Di kota ini, Abdullah harus berganti kapal.
Setelah menunggu enam hari, Abdullah dan jamaah haji lainnya melanjutkan perjalanan dengan kapal haji Atia Rahman yang telah tiba dari Kalkatah. Dalam perjalanan ke Jeddah, kapal ini singgah di Kalikut, Mokha, dan Hudaidah. Sehari sebelum sampai di Jeddah, kapal bersandar terlebih dahulu di Yalamlam agar jamaah haji berkesempatan untuk memakai pakaian ihram. Sebagaimana diketahui, Yalamlam adalah miqat makani bagi jamaah haji dari nusantara.