BANDA ACEH – Pedagang di sekitar Jalan T. Hasan Dek, kawasan Jembatan Beurawe, Banda Aceh, mengeluhkan penutupan jembatan untuk proyek flyover (jembatan layang) Simpang Surabaya. Mereka menilai tindakan ini merupakan penzaliman terhadap pedagang. Pasalnya, dengan ditutupnya jembatan, warga yang melintas di kawasan itu juga menurun drastis. Beberapa toko di kawasan itu terancam tutup karena hilangnya pelanggan.

“Kami kesal kepada pemerintah dan pelaksana proyek. Dalam kurun waktu empat bulan terakhir toko kami sepi. Setiap harinya kami hanya memakan debu proyek,” kata salah satu pedagang di kawasan itu, Samsunar Hamsya, 52 tahun, dalam konferensi pers di Warung Kopi Ayah, didampingi kuasa hukumnya, Safaruddin dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh, Kamis, 1 September 2016.

Menurut Samsunar, masyarakat pemilik usaha di sekitar pembangunan proyek sudah dizalimi. Akibat proyek tersebut, kata dia, selama empat bulan terakhir mereka kehilangan omzet hingga 90 persen. Bahkan ada yang tokonya nyaris ditutup karena tidak ada pembeli.

“Kami selama ini berharap dari pembeli yang melewati jembatan. Ketika jembatan ditutup, siapa yang mau beli dagangan kami,” ujarnya lagi.

Selama ini, kata dia, pihak Pemko Banda Aceh dan pelaksana proyek belum pernah bermusyawarah dengan aparat desa dan warga yang berdagang di lokasi proyek.

“Pemerintah tidak pernah memikirkan bagaimana nasib para pedagang yang menderita kerugian setelah ditutupnya jembatan Beurawe,” ujar Samsunar.

Safaruddin, kuasa hukum Aliansi Pengusaha dan Pedagang Korban Proyek Flyover dan Underpass Simpang Surabaya mengatakan, masyarakat di sekitar belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang proyek tersebut. “Kini proyek sudah berjalan, tetapi masyarakat di sekitar seperti dizalimi,” kata Safaruddin.

Padahal, menurutnya, masyarakat di sekitar proyek memiliki hak karena mereka setiap tahunnya harus membayar kewajiban kepada pemerintah. Namun, saat ada proyek seperti ini hak mereka dinilai diabaikan.

Akibat proyek jembatan itu, kata Safar, pedagang dan pengusaha tersebut nyaris kehilangan mata pencarian. Setelah jembatan ditutup, sudah tidak ada pembeli yang melewati toko-toko mereka.

Safaruddin menambahkan, masyarakat di sekitar proyek jembatan tersebut meminta pihak terkait untuk melakukan musyawarah dalam waktu dekat tentang bagaimana jalan keluar perihal permasalahan tersebut.

Mulai hari ini, kata dia, akan didirikan “posko keprihatinan dan korban kezaliman” proyek flyover dan underpass Simpang Surabaya yang berlokasi di dekat jembatan tersebut. “Posko ini nantinya akan berdiri hingga semua tuntutan pengusaha dan pedagang toko proyek jembatan terpenuhi,” kata Safaruddin.[](ihn/*sar)