TERKINI
PROFIL

PA Mungkin Menang Lagi di Pilkada 2017

Aceh, sudah terlanjur luluh lantak oleh provokasi di antara politikus kelas atasnya. Itu cerdas atau bodoh?

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 5.8K×

Perpolitikan di Aceh menjelang Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) pada tahun 2017, tidak akan sepanas tahun 2012. Partai Aceh (PA) tidak lagi memiliki satu saingan yang kuat, akan tetapi sudah ada beberapa pesaing yang punya kekuatan seimbang. Keadaan ini menyebabkan PA lebih berhati-hati.

Pecahnya Partai Aceh, yang ditandai dengan munculnya Zakaria Saman, Zaini Abdullah, dan Muzakir Manaf maju secara terpisah sebagai calon gubernur, telah mengakibatkan beraninya politikus Aceh yang selama ini bermain di tingkat nasional untuk ambil andil secara percaya diri. Namun bernarkah anggapan atau waham itu?

Bukan lagi masanya untuk berandai-andai Irwandi Yusuf, Muzakir Manaf, Zakaria Saman, Zaini Abdullah, punya suara bulat untuk menjagokan dua orang saja sebagai calon gubernur dan wakil gubernur. Aceh, sudah terlanjur luluh lantak oleh provokasi di antara politikus kelas atasnya. Itu cerdas atau bodoh?

Dengan kenyataan ini, partai apakah yang memiliki peluang terbesar untuk menang di Pilkada 2017? Masih Partai Acehkah? Sebagian besar orang pesimis tentangnya. Namun tunggu dulu. Tahun 2012 orang juga sepesimis itu terhadap partai merah ini. Dan para pesaing sesemangat itu juga.

Akan tetapi pada kenyataannya, sekira dua bulan menjelang hari pemilihan, sebagian besar golongan putih beralih mendukung calon dari PA, dan sebagian besar pesaing pun terdiam, sudah mengetahui akan kalah.

Itulah kenyataan yang telah terjadi pada 2012, dan kemungkinan besar, akan terulang pada 2017. Itu disebabkan tidak ada kelompok terkuat di Aceh untuk zaman ini, selain KPA (Komite Peralihan Aceh). Kita boleh suka atau tidak suka akan hal itu, namun takdir tidak bisa diubah.

Sejarah masih menghendaki, orang-orang perang itu berkuasa walaupun tujuannya telah bergeser dan sebagian anggotanya tercerai berai.

Saya, secara pribadi telah mengatakan dengan sebenar pada orang terdekat salah satu calon gubernur terkuat bahwa saya tidak akan mendukung seorang pun untuk pilkada 2017 disebabkan saya menilai tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu membangun Aceh.

Saya tahu orang itu akan menang, tetapi saya harus memilih sikap sendiri karena saya punya konsep untuk Aceh masa kini dan masa depan, sebagaimana saya tulis dalam novel Aceh 2025.

Hanya orang yang seide dengan itu saya dukung, akan tetapi, sepertinya belum ada seorang pun dari para calon gubernur Aceh itu yang membaca buku tersebut. Buku saja tidak mahu mereka baca, bagaimana saya akan mendukungnya?

Lalu, pemimpin seperti apakah yang saya inginkan untuk Aceh dan bagaimana pembangunan Aceh yang saya kehendaki? Itu semua telah tersuratkan di dalam novel Aceh 2025.

Aceh yang mandiri ekonomi, menjaga budaya, memelihara agama, berteknologi maju, manusiawi, demokratis, logis, terbuka terhadap perubahan sekaligus menjaga jati dirinya. Hanya pemimpin yang memiliki cara mencapainya kudukung, dan itu belum ada.

Saya dukung ataupun tidak, orang yang ditakdirkan menang tetap akan menang, dan yang ditakdirkan kalah, tetap kalah. Saya hanya punya satu suara.[]

*Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar