BANDA ACEH - Langit biru kekuningan telah hilang ditelan kegelapan, awan-awan hujan mulai meruntuhkan butir-butir air. Dari tengah ruangan kedai kopi yang dihiasi lampu bewarna…
BANDA ACEH – Langit biru kekuningan telah hilang ditelan kegelapan, awan-awan hujan mulai meruntuhkan butir-butir air. Dari tengah ruangan kedai kopi yang dihiasi lampu bewarna kuning keemasan terlihat beberapa orang mahasiswa duduk berkelompok.
Ya, mereka adalah mahasiswa jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Setelah selesai yudisium, sejumlah mahasiswa FKP tersebut duduk bersama kawan-kawan seperjuangan lainnya yang masih berjuang membuat skripsi, di Channel Coffe, Lamnyong, Kamis, 11 Februari 2016.
Dalam acara kumpul-kumpul tersebut mereka saling membahas masalah kuliah.
“Semoga kolega saya yang lain cepat menyusul dan lancar dalam melakukan penelitian Tugas Akhir (TA), orang tua mereka tidak lagi sabar ingin segera melihat anaknya memakai busana hijau hitam (baju toga),” ujar Cut Uliza, salah satu mahasiswa yang yudisium hari itu.
Cut bercerita bahwa bapak dan ibu para mahasiswa punya sejuta harapan supaya anaknya kelak menjadi orang yang berguna yang bisa memegang tongkat estafet kepemimpinan, paling tidak bisa memimpin dirinya sendiri.
Tujuan duduk dan kumpul bersama di kedai kopi adalah untuk memotivasi sahabatnya yang lain dan juga untuk memberikan semangat dalam menyelasaikan tugas akhir. Saya berharap agar kawan-kawan tak mudah patah arang dalam berjuang demi merengguh gelar Sarjana Perikanan (S.pi), ktanya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Cihui yang tak lain adalah mahasiswa FKP yang sudah melegenda. Menurut mahasiswa leting 2010 itu.
Duduk bersama seperti ini sangatlah penting. Selain musyawarah masalah tentang pelajaran kampus juga untuk meningkatkan ukhwah (silaturrahim) bersama rekan-rekan yang lainnya.
Laporan Teuku Mukhlis, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri