Kisah ini bercerita tentang Abdullah al-Majorci. Seorang mantan ulama besar Nasrani yang menjadi seorang muslim. Abdullah hidup saat Perang Salib masih berkecamuk. Lahir di Majorca (baca: Mayorka), Spanyol, kemudian pindah ke Tunisia di bawah kekuasaan Daulah Hafshiyah. Ia adalah seorang Nasrani yang taat dan tekun mempelajari agamanya. Dalam waktu singkat, ia berhasil menghafal setengah Injil.
Namun akhirnya, ia memeluk Islam, setelah mengetahui bahwa Muhammad, seorang nabi dari Arab, adalah nama yang disembunyikan kebenrannya oleh pasturnya. Setelah memeluk Islam, ia mengganti namanya menjadi Abdullah dan menulis kisah perjalanan hidupnya dalam buku Tuhfatu al-Arib fi Rad ala ahli ash-Shalib.
Nama dan Laqobnya
Namanya adalah Abdullah bin Abdullah at-Tarjuman. Ini adalah nama yang ia pilih setelah memeluk Islam. Sebelumnya, namanya adalah Anselm Turmeda. Ia melaqobi dirinya dengan tarjuman karena aktivitasnya sebagai penerjemah sultan dalam surat-menyurat dengan bangsa Frank.

Ia dinisbatkan kepada Majorca karena kota ini adalah kota kelahirannya.
Memeluk Islam Karena Nama Muhammad Adalah Kebenaran
Dalam buku yang ia tulis yang berjudul Tuhfatu al-Arib fi Rad ala ahli ash-Shalib, Abdullah al-Majorci menceritakan kisah keislamannya:
Aku adalah seorang yang berasal dari Majorca -semoga Allah mengembalikannya kepada Islam-. Majorca adalah kota besar di pesisir laut Spanyol. Sebuah kota yang diapit dua gunung. Kota yang terdapat dataran rendah yang kecil. Itulah kota para pedangang. Banyak kapal-kapal besar bermuara, berniaga di pinggir lautnya. Hutannya adalah hutan zaitun dan tin. Dan pagarnya adalah 120 benteng lebih mengelilingi kota ini. Kota ini dimakmuri oleh banyak mata air. Semuanya berhilir ke lautan.
Ayahku adalah orang yang tinggal di perkotaan Majorca. Ia tidak memiliki anak kecuali aku. Ketika usiaku menginjak 6 tahun, ayah menyerahkan pendidikanku kepada seorang pastur. Aku membaca Injil di hadapan pastur itu. Hingga aku berhasil menghafal setengahnya hanya dalam waktu 2 tahun. Setelah itu, aku mempelajari bahasa Injil dan ilmu logika bahasa (mantiq), padahal saat itu usiaku masih 6 tahun.
Dari Majorca, aku pindah ke Kota Lleida, wilayah Catalonia. Pada masa itu, kota ini adalah kota ilmu bagi orang-orang Nasrani. Setiap 1000 atau 1500 orang pelajar Nasrani yang tinggal di sana, dipimpin oleh seorang Romo. Di sana aku mempelajari ilmu pasti selama enam tahun, kemudian mempelajari Injil dengan bahasa aslinya selama empat tahun.
Setelah menimba ilmu di Lleida, Abdullah pindah ke Balunia (Arab: ??????) di wilayah al-Anbardiyah (Arab: ?????????). Kota ini juga merupakan kota pelajar Nasrani di zamannya. Setiap tahun 1000 orang lebih penuntut ilmu Nasrani datang dari segala penjuru untuk belajar di kota ini. Di sini Abdullah tinggal di gereja, dibawah pengasuhan Uskup Agung Nicole Martel. Nicole Martel memiliki kedudukan ilmu, agama, dan kezuhudan yang sangat tinggi di masyarakat. Ia sangat istimewa disbanding uskup-uskup lainnya.
Abdullah al-Majorci bercerita tentang hubungannya dengan Nicole Martel: Di bawah pengasuhan Nicole Martel, aku mempelajari pokok-pokok agama Nasrani dan hukum-hukumnya. Aku senantiasa dekat dengannya. Mengabdikan diri melayaninya. Dan mewakilinya dalam banyak kesempatan. Hingga aku pun menjadi murid kesayangannya. Puncak itu semua, ia serahkan padaku kunci-kunci rumahnya, perbendaharaan hartanya, tempat makan dan minumnya. Semuanya berada di tanganku. Kecuali satu kunci saja. Kunci sebuah ruangan kecil di dalam rumahnya yang biasa ia gunakan untuk menyendiri. Dugaanku, ruang itu adalah ruang harta-harta yang ia dapatkan dari hadiah dan pemberian. Aku tidak tahu persisnya.
Aku terus berguru dan mengabdi pada Nicole Martel selama 10 tahun. Hingga tiba suatu waktu, ia menderita sakit. Ia tidak bisa menghadiri pertemuan dengan uskup-uskup lainnya sebagaimana yang biasa ia lakukan. Para uskup mengadakan diskusi dan kajian keagamaan, sambil menunggu kehadirannya. Mereka sampai pada firman Allah ? di Injil, tentang perkataan Nabi Isa, Sesungguhnya akan datang setelahnya seorang nabi, namanya al-Baraqlith (Arab: ??????????).
Mereka terus berdiskusi, siapakah Nabi ini. Nabi yang dimaksud Injil akan datang setelah Isa. Setiap orang berbicara dan mengeluarkan pendapat sesuai dengan kadar ilmu dan pemahamannya. Perdebatan akan nama ini kian seru, namun diskusi berakhir tanpa titik temu.
Setelah itu aku datang menemui Nicole Martel. Ia bertanya padaku, Apa yang kalian diskusikan pada hari ini, saat aku tidak hadir? Kukabarkan padanya bahwa para uskup berselisih pendapat tentang nama al-Baraqlith. Fulan menjawab demikian. Dan Fulan menyebutkan nama yang lain. Lalu apa pendapatmu? tanyanya padaku. Aku menjawab dengan jawaban Qadhi Fulan dalam tafsirnya terhadap Injil, jawabku.
Kemudian ia berkata, Engkau keliru. Fulan juga keliru. Dan Fulan lebih mendekati kebenaran. Namun yang benar, bukanlah nama-nama yang kalian sebutkan (dalam dikusi). Karena tidak ada yang mengetahui tafsir tentang nama yang mulia ini kecuali seorang ulama yang mendalam ilmunya. Kalian belum sampai level itu. Ilmu kalian masih sedikit.
Aku segera mencium kakinya, dan berkata, Wahai tuanku, Anda tahu aku berjalan dari negeri yang jauh demi belajar kepadamu. Aku juga telah mengabdi kepadamu selama 10 tahun. Aku telah mendapatkan banyak pengetahuan darimu yang aku tidak mampu menghitung banyaknya. Mudah-mudahan dengan kebaikanmu, kiranya engkau mau memberi tahu tentang tafsir nama itu.
Tiba-tiba ia menangis. Lalu berkata kepadaku, Wahai anakku, demi Allah engkau telah banyak memuliakanku dengan pengabdian dan pelayananmu. Tapi, aku khawatir jika nama ini kuberitahukan padamu engkau akan dibunuh (atau dimusuhi) oleh orang-orang Nasrani dari segala penjuru.
Tuan, demi Allah Yang Maha Agung, dan atas hak Injil serta apa yang dikandungnya, aku tidak mengatakan sesuatu kecuali atas perintahmu., jawabku meyakinkannya.
Ia berkata, Wahai anakku, dulu aku pernah bertanya padamu saat pertama kali kau datang padaku dari negerimu, Apakah tempat tinggalmu dekat dengan orang-orang Islam? Apakah mereka memerangi kalian dan kalian memerangi mereka? Semua itu untuk mengujimu seberapa jauh engkau benci dengan Islam. Ketauhilah wahai anakku bahwa al-Baraqlith adalah nama nabi mereka (umat Islam), Muhammad. Kepadanyalah diturunkan al-Kitab (Alquran) yang keempat, yang disebutkan melalui lisan Danial alaihissalam. Ia mengabarkan bahwa kita itu akan diturunkan padanya. Agamanya adalah agama kebenaran. Dan millahnya adalah millah yang putih sebagaimana yang disebutkan di dalam Injil.
Aku berkata padanya, Tuan, bagaimana solusi dari masalah ini? Abdullah bingung, sementara ia mempelajari Nasrani, hidup di lingkungan Nasrani, dan berguru kepada ulama besar Nasrani, tapi kebenaran ada pada Islam.
Masuklah ke dalam agama Islam wahai anakku, jawabnya.
Apakah keselamatan itu dengan memeluk Islam? tanyaku.
Betul. Selamat di dunia dan akhirat., jawabnya.
Tuan, sesungguhnya orang yang cerdas memilih yang terbaik dari yang dia ketahui. Jika Anda mengetahui kemuliaan agama Islam, apa yang menghalangimu darinya? tanyaku lagi.
Ia menjawab, Anakku, sesungguhnya Allah belum menunjukkanku tentang apa yang kusampaikan kepadamu berupa keagungan Islam dan kemuliaan nabi umat Islam kecuali saat aku telah tua dan fisikku sudah melemah, memang tidak ada udzur bagiku, bahkan itulah hujjah Allah untukku. Seandainya aku mengetahuinya ketika seumurmu, akan kutinggalkan segalanya. Aku akan memeluk agama yang benar ini. Dan cinta dunia adalah pokok dari segala keburukan.