BANDA ACEH – Setelah kunjungan tiga delegasi Jepang ke Museum Tsunami beberapa waktu lalu, Sabtu, 24 Desember 2016 kemarin, perwakilan dari Tokyo, Jepang kembali mengunjungi Museum Tsunami untuk serah terima lukisan kepada pengelola museum.

Meili Nuzuliana, Bidang Komunikasi Museum Tsunami Aceh mengatakan, lukisan dinding yang diserahkan merupakan hasil karya anak-anak Sekolah Dasar Miyato dengan tema “Miyato 10 tahun yang akan datang.”

“Lukisan itu nantinya akan dipamerkan di Museum bersamaan dengan gambar yang dibuat anak-anak Aceh dengan tema 'Aceh 10 tahun yang akan datang', kata Meili, Minggu, 25 Desember 2016.

Sekolah Dasar Miyato merupakan fasilitas pendidikan yang ada di daerah Matsushima Timur Prefecture Miyagi dan terkena dampak kerusakan akibat tsunami. Namun, sekolah ini sudah ditutup pada musim semi 2016 akibat terus menurunnya jumlah penduduk pada kawasan tersebut.

Di awal seremonial, pengunjung diajak lebih dulu menyaksikan video rekaman yang menampilkan Miyazaki Toshiaki yaitu guru teladan di Jepang yang membimbing lukisan anak-anak SD di Miyatojima.

Hadir pada acara serah terima yang mewakili pihak Jepang yaitu Yuichi Watanabe dari The Laboratory for Global Dialogue. Lembaga ini membidangi kegiatan pertukaran internasional dengan berdialog melalui jaringan internet teleconference antar masyarakat atau anak-anak Jepang dengan berbagai negara, dan untuk Aceh sendiri kerjasama sudah dimulai sejak 2013 lalu.

Mewakili Kadsibudpar Aceh, hadir Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh Rahmadhani,M.Bus yang menyampaikan apresiasi terhadap kerjasama yang terus terjalin dengn  baik antara Aceh dan Jepang. Seremonial dilaksanakan di Ruang Rapat Lantai 2 Museum Tsunami Aceh, dan serah terima secara simbolik serta pemotongan pita dilaksanakan di Lantai 3 Ruang Tellnet Museum.

“Sebelumnya lukisan yang diserahkan kepada pemerintah Aceh sudah lebih dulu dibawa ke Museum beberapa hari sebelum serah terima dilaksanakan.”

Penutupan kegiatan tersebut diisi dengan persembahan yang diiringi musik rap membawakan “Arigato, Sahabat” dengan perpaduan bahasa Aceh dan Jepang. Selanjutnya, Penandatanganan Berita Acara serah terima lukisan dilakukan oleh Watanabe dan Rahmadhani di Manajemen Museum dengan saksi yaitu Pihak Aceh Coordinator Japan Broadcasting Corporation NHK, H.T. Panglima.[]