Pria yang kini berusia 34 tahun ini berasal dari Busan, Korea Selatan. Dongshin Park, demikian namanya, terlahir dari keluarga yang taat beragama. Ayah dan ibunya cukup religius dalam membesarkan buah hati mereka. Lelaki yang kini aktif sebagai youtuber itu pun mengenang masa kecilnya.
“Mereka mengajari saya banyak tentang agama, itulah sebabnya mereka ingin saya menjadi seorang pendeta atau biarawan sejak saya muda,” ujar Dongshin dalam video yang diunggah di saluran @Abdullah Al-Kory, belum lama ini.
Tak heran jika sejak kecil dirinya terus mendalami kitab suci agama itu. Ia juga berupaya menuruti kata-kata gurunya, yakni agar selalu menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Lelaki kelahiran tahun 1986 ini juga mendaftar di sebuah lembaga pendidikan yang dikenal sebagai sekolah misionaris.
Seiring waktu, ia pun tumbuh menjadi seorang remaja yang kritis. Ia mulai merasakan keresahan pribadi, terutama sejak berada di sekolah menengah. Ia berpikir secara mendalam tentang ajaran dan kitab suci yang selama ini dibacanya. Dalam berbagai kesempatan, ia pun sering bertanya kepada pemuka agama yang dihormati. Sebab, Dongshin merasa dirinya mulai ragu-ragu dengan berbagai doktrin yang ada.
“Saya terus bertanya-tanya dalam hati, mengapa?” ujar dia.
Waktu itu, ia telah mengenal sedikit tentang Islam melalui berbagai bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan sekolah. Dalam Islam, ada penuturan tentang nabi-nabi, seperti Nabi Musa, Daud, Ibrahim, dan Isa AS. Dikatakan, semua utusan itu menyembah hanya kepada satu Tuhan. Ini berlainan dengan pernyataan kitabnya, yakni bahwa Isa adalah anak Allah.
“Tetapi, Isa mengatakannya dengan jelas, 'Jangan katakan bahwa aku adalah Tuhan, kamu tidak bisa pergi ke surga karena mengatakan bahwa aku adalah Tuhan. Hanya mereka yang mengikuti firman Tuhan yang akan pergi ke Surga.' Isa menyatakan secara tegas bahwa dirinya bukan Allah. Dia mengatakan kepada orang- orang untuk tidak menyembahnya,” kata Dongshin mengenang hasil pembacaannya kala itu.
Baginya, kesesuaian antara perkataan Nabi Isa dan ajaran Islam menimbulkan semacam keguncangan batin. Ia merasa dirinya harus menggali lebih dalam tentang agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini.
Melalui berbagai bacaan, Dongshin akhirnya mengetahui tentang beberapa aspek dasar dalam Islam. Sebagai contoh, Rukun Islam dan Rukun Iman. Ia pun akhirnya mengenal tentang ibadah shalat, yakni gerakan-gerakan doa yang disertai rukuk dan sujud.
Baginya, gerakan sujud itu sungguh-sungguh menandakan kepasrahan yang total dari seorang manusia kepada Penciptanya. Menurut buku-buku yang dibacanya, Nabi Isa pun selalu bersujud kala berdoa kepada Tuhan.
“Perasaanku waktu itu terasa berat sehingga aku pun berdoa, 'Ya Tuhan, jika Engkau ada di sana, tolong jawab doaku. Tolong katakan kepadaku apa alasan hidupku, apa kebenarannya? Tuhan, siapakah engkau? Tuntunlah aku agar sampai ke jalan kebenaran',” tutur dia.
Beberapa hari kemudian, Dongshin merasa mendapatkan keajaiban. Yang dimaksudkannya, ia menemukan suatu kalimat yang sangat menyentak pikiran dan hatinya. Kalimat itu ditemukan dalam suatu buku kecil tentang Islam. “Tidak ada Tuhan selain Allah, hanya Allah yang layak disembah,” demikian bunyi kalimat itu.
Saat itu, ia perlu rehat sejenak dari membaca buku. Jeda untuk merenungi tentang apa yang telah diperolehnya selama ini. Ia merasa, kalimat tersebut begitu efektif dalam menegaskan kepercayaan akan Tuhan Yang Maha Esa. Baginya, inilah kebenaran yang tak terbantahkan.
Pada 30 Desember 2009, Dongshin Park kemudian memeluk Islam. Ikrar syahadat diucapkannya di hadapan imam dan sejumlah jamaah masjid di Korea Selatan. Baginya, menjadi seorang Muslim tak ada urusan dengan mencari simpati. Sebab, ia menyadari, Islam-lah jalan kebenaran sejati.
“Sekarang, saya telah menemukan makna hidup saya. Seperti yang Anda ketahui, firman-Nya dalam Alquran, 'Dan tidaklah Aku (Allah)menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah',” jelas dia.