BANDA ACEH – Para pelajar di Aceh dari beberapa jenjang, mengunjungi Pameran bertema ''Mengenal Batu Nisan Aceh – Sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara”, di Museum Aceh, Sabtu 13 Mei 2017. Pameran ini berlangsung 9-16 Mei 2017.
Pada hari kelima pameran, Sabtu 13 Mei 2017, di antara para pengunjung, NTsN 1 Aceh Barat Daya, serta beberapa sekolah di lain tingkatan di Banda Aceh dan sekitarnya.
Muhajir, salah seorang pemandu pameran tersebut, mengatakan, para pelajar yang datang sangat antusias karena batu nisan Aceh merupakan pengetahuan baru bagi mereka.
“Sebelumnya, mata pengetahuan mereka tentang Kesultanan di Aceh sangat terbatas. Mereka sangat antusias,” kata Muhajir, pemandu dari anggota Mapesa, Senin 14 Mei 2017.
Muhajir dari Mapesa, mengatakan, dari salah satu guru yang ikut mendampingi siswa mengatakan bahwa guru ingin mengajak siswa melakukan napak tilas pada situs-situs makam bersejarah tapi dikarenakan informasi yang tersedia tidak ada maka napak tilas yang direncanakan tidak dilaksanakan.
“Para murid utamanya lebih mengenal tokoh utama dalam sejarah, seperti halnya Samudra Pasai yang dikenal cuma Sultan Malikussaleh.
Muhajir mengatakan, para pemandu memperkenalkan berbagai macam jenis typologi nisan yang ada di Aceh dari era Pasai, Lamuri, dan Aceh Darussalam.
“Pameran ini diharapkan dapat manambah wawasan siswa dalam kesejarahan nusantara khususnya sejarah Aceh,” kata Muhajir.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pameran ini berlangsung di ruang pameran kontemporer dan di halaman museum. Di dalam ruangan berisi foto, batu nisan, dan penjelasannya.
Di halaman Museum, ada batu nisan yang diatur seperti mini kompleks makam sebagai bahan pameran. Batu-batu nisan tersebut adalah yang diselamatkan oleh Mapesa dan Dr Husaini Ibrahim, dibawa ke Museum untuk pameran.
Bagian pameran juga komplek makam salah satu dinasti Sultan Aceh Darussalam, di halaman gedung museum. Dan bagian pameran komplek makam Sultan Ibrahim Mansur Syah, di Baperis (kompleks Makam Sultan Iskandar Muda) juga menjadi bagian dari pameran ini.
“Pameran enam hari ini dilaksanakan oleh Museum Negeri Aceh bersama Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) dan BPCB. Batu nisan yang dipamerkan nantinya adalah warisan Kesultanan Lamuri, Samudra Pasai, dan Aceh Darussalam,” kata Almuniza, di Banda Aceh.
Selain pameran, setelah dibuka, diadakan seminar tentang batu nisan Aceh dengan pemateri Dr Husaini Ibrahim, Deddy Sastria, dan seorang arkeolog dari Sumatra Utara.
Mapesa mengirim 3 pemandu untuk pameran selama enam hari ini. Salah seorang pemandu tersebut, Afrizal Hidayat, menjelaskan tentang batu nisan yang di halaman Museum Aceh kepada seluruh hadirin.
Sebelumnya, Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyatakan segera mengeluarkan peraturan gubernur (Pergub) tentang Batu Nisan Aceh, dan mendaftarkan benda warisan dunia Islam dari peradaban Aceh tersebut di UNESCO sebagai benda warisan budaya dunia.[]