JANGAN pernah berhenti bermimpi sebelum Anda meraih impian tersebut. Berbekal tekad kuat untuk bisa mencium tanah Papua, wanita berhijab ini memulai petualangannya menggapi mimpi dengan mengendarai motor skuter Vespa tua dari Jakarta. Hebatnya, Trigel, demikian dia akrab disapa, berangkat tanpa ditemani rombongan touring. Ya, dia berangkat sendirian.
Itinerary pun dia susun sedemikian rupa. Tak lupa, Trigel memastikan mesin Vespa tua miliknya dalam kondisi prima. Segala macam perbekalan selama di jalan termasuk persediaan uang saku, telah dia rinci satu per satu. Dia juga mengurus surat jalan resmi ke kepolisian agar perjalanannya aman terkendali. Wanita kelahiran Jakarta, 14 Juni 1995 ini juga berkorespondensi dengan teman-teman komunitas Vespa di rute-rute yang akan dia lalui.
Aksi solo riding Trigel ke ujung timur Indonesia ini dimulai akhir Juni 2017, atau beberapa hari setelah usianya genap 22 tahun. Tak lupa wanita bernama lengkap Trigel Astari Trianida ini berpamitan pada delapan sahabatnya di komunitas pecinta Vespa yang menaunginya yaitu Ladiescoot Veronicaa, yang bermarkas di Bogor, Jawa Barat.
Bungsu dari tiga bersaudara ini pun memulai perjalanan panjangnya bersama 'Melty', demikian dia menyebut motor Vespa super keluaran tahun 1973 tersebut.
“Setelah berpamitan sama Ibu dan kedua kakak, saya mulai gas tipis-tipis si Melty menuju Bogor. Dari situ, saya didampingi Teh Nelly, Ketua Ladiescoot Veronicaa, sampai Cianjur. Setelah itu, dimulailah petualangan menuju Papua,” cerita Trigel saat dihubungi Health-Liputan6.com via telepon, beberapa pada pertengahan Oktober 2017.
Solo riding ibarat menjelajah sirkuit alam
Dari Cianjur, Trigel menuju ke Bandung. Meski secara fisik dia riding seorang diri, sebagai skuteris wanita, Trigel tak pernah merasa galau. Setiap kota yang dia lewati, Trigel pasti disambut dan dijamu oleh komunitas Vespa setempat. Dia yakin 1000 persen dengan slogan para skuteris Indonesia yaitu “Satu Vespa Sejuta Saudara”.
Lepas dari Bandung, dia menuju ke Tasikmalaya dan kemudian lanjut ke Banjar Pratoman. Berikutnya, Melty melaju menyusuri Yogyakarta, Solo, dan Purwodadi.
“Sampai di Purwodadi, saya berhenti untuk ziarah ke makam almarhum Bapak. Saat berdoa di makam, saya jadi teringat masa-masa Bapak masih ada. Beliau sangat keras melarang saya naik Vespa. Namun, saya tak bisa berdusta kalau saya sangat cinta dengan Vespa. Dari kecil saya udah bermimpi bisa naik Vespa mengelilingi seluruh penjuru Ibu Pertiwi,” curhat Trigel yang ditinggal ayahanda tercinta saat dia duduk di kelas 3 sekolah menengah atas.
Dari Purwodadi, Trigel bergerak menuju Surabaya. Sebelum menyeberang dan menumpang kapal ke Makassar, ia sempat mlipir sebentar mengunjungi teman-teman komunitas Vespa di Malang. Menurut cerita dalam vlog pribadinya, menjelajah aspal itu ibarat bermain di sirkuit alam. Menerabas panas, berlindung dari hujan, berjuang menahan dingin, dan bisa mengagumi dari jarak dekat betapa indahnya kekayaan alam Indonesia.
“Dari Malang, kemudian saya kembali lagi ke Surabaya untuk menyeberangi Pulau Jawa menuju Sulawesi. Saya stay di Makassar kurang lebih satu bulan. Selama di Makassar, saya keliling silaturahmi ke berbagai komunitas Vespa di sana. Jalan-jalan ke Kota Daeng, sampai camping bersama teman-teman di hutan pinus Malino. Sambil menunggu jadwal kapal dari Makassar menuju Papua, yang trayeknya hanya ada sebulan sekali,” jelas Trigel.