TERKINI
NEWS

Mobil PLN dan Sepmor Warga Terperosok, Masyarakat Minta Jembatan Gantung Dibangun Permanen

LHOKSUKON –   Satu unit mobil operasional milik PT PLN Ranting Lhoksukon terperosok di jembatan gantung Gampong Asan Ara Kemudi, Kemukiman Lhoksukon Barat, Kecamatan Lhoksukon, Aceh…

NUSI P SEURUNGKENG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 727×

LHOKSUKON –   Satu unit mobil operasional milik PT PLN Ranting Lhoksukon terperosok di jembatan gantung Gampong Asan Ara Kemudi, Kemukiman Lhoksukon Barat, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Jumat, 20 November 2015 pukul 19.30 WIB. Selang dua jam kemudian, satu unit sepeda motor (sepmor) kembali jatuh di lubang yang sama.

Akibat kejadian itu, pengendara sepmor, Bustamam, 35 tahun, warga Brandang Krueng, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, mengalami luka lecet.

Jembatan yang memiliki panjang sekitar 150 meter dengan lebar 1,5 meter tersebut berbatasan dengan Gampong Asan Krueng Kreh, Kecamatan Pirak Timu. Jembatan itu merupakan jalur lintas warga di tiga kecamatan, yakni Pirak Timu, Paya Bakong dan Cot Girek.

“Semalam saat mobil PT PLN melintas, lantai jembatan yang sudah lapuk itu patah. Alhasil dua ban bagian depan mobil tersebut terperosok. Mobil itu dapat melaju kembali setelah dibantu evakuasi oleh masyarakat. Selang dua jam kemudian, satu unit sepeda motor warga juga terperosok di lubang yang sama,” kata Geuchik Gampong Asan Krueng Kreh, Abdul Aziz kepada portalsatu.com, Sabtu 21 November 2015.

Ia menyebutkan, jembatan itu dibangun pada tahun 1982. Pada tahun 2006 sempat direhab setelah insiden jatuhnya mobil tanki milik PDAM Tirta Mon Pase. Kemudian Desember 2011 setelah sling sayap kiri jembatan putus akibat tertimpa pohon pinang yang roboh. Kala itu jembatan menjadi miring.

“Pada dasarnya jembatan itu memang sudah tidak layak pakai, mengingat sling jembatan sudah tidak mampu menahan beban berat. Selama empat tahun terakhir warga hanya bisa melakukan perbaikan seadanya dengan dana swadaya. Hal itu agar jembatan tetap dapat dilintasi, walau kondisinya mengkhawatirkan,” ujarnya.

Dikatakan geuchik, jembatan itu merupakan jalur utama pelajar melintas karena mereka bersekolah ke Kecamatan Matangkuli dan Lhoksukon. Selain itu, jembatan itu juga jalur terdekat untuk mengangkut hasil tani masyarakat.

Abdul Aziz menjelaskan, jarak menuju Kecamatan Lhoksukon dengan melewati jembatan tersebut hanya sekitar 2 kilometer. Sementara jika memutar dari Gampong Parang Sikureung, Kecamatan Matangkuli dan Cluster IV, maka jarak tempuh mencapai 15 kilometer. Selain memakan waktu juga menambah biaya operasional.

“Saya harap pemerintah dapat segera membangun jembatan rangka baja atau permanen, sebelum adanya korban jiwa,” pinta Geuchik Gampong Asan Krueng Kreh.

Mahyuddin Idris, 33 tahun, warga setempat secara terpisah mengatakan, jika sling jembatan tersebut kembali putus, maka sembilan desa di dua kecamatan akan terisolir. Masing-masing, Gampong/Desa Asan Krueng Kreh, Beuracan, Glumpang, Trieng, Reungkam, Keutapang, Bilie Baroe dan Bungong di Kecamatan Pirak Timu, serta Gampong Beurandang di Kecamatan Cot Girek.

“Jembatan ini saban hari dilintasi pelajar yang sekolah di SD Negeri 3, SD Negeri 5 dan SD Pange di Kecamatan Pirak Timu, serta SMP Negeri 1 di Beurandang, Kecamatan Cot Girek. Ditambah lagi banyak pelajar SMA yang bersekolah ke Kecamatan Lhoksukon,” bebernya.[]

 

NUSI P SEURUNGKENG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar