JAKARTA Tidak dimungkiri lagi soal peran Laksamana Tadashi Maeda yang menyediakan rumah dinasnya di Jalan Miyako-Doori No.1 (kini Museum Perumusan Naskah Teks Proklamasi, Jalan Imam Bonjol No.1 Jakarta Pusat).
Maeda merelakan rumah dinasnya itu untuk dijadikan tempat Soekarno, Mohammad Hatta, dan Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo membidani lahirnya teks proklamasi. Memang tak lama pasca-proklamasi dibacakan, pihak Rikugun (AD Jepang) bersikap biasa saja.
Ketika Soetardjo Kartohadikoesoemo diutus untuk melaporkan bahwa pernyataan kemerdekaan Indonesia sudah dilantangkan di rumah Soekarno (Jalan Pegangsaan Timur 56), pihak Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer) tak merespons dengan menangkapi para tokoh-tokoh Indonesia.
Setelah proklamasi, ada proses lapor dengan mengutus Soetardjo ke Gunseikan, kantornya (perwira tertinggi angkatan Perang Jepang di Indonesia, Mayjen Moichiro) Yamamoto, ungkap Jaka Perbawa, kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi kepada Okezone.
Soetardjo lapor bahwa Indonesia sudah mengumumkan kemerdekaan setelah ada pertemuan di rumah Maeda. Tapi ternyata Yamamoto enggak marah, biasa saja. Tidak ada sikap untuk menangkapi para tokoh, tambahnya.
Tapi sayangnya, nasib Maeda di kemudian hari begitu miris. Tidak lama setelah Republik Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, sekutu datang dua bulan berselang.
Tujuan sekutu tentu saja untuk melucuti dan memulangkan bala tentaraDai Nippon (Jepang) setelah negeri matahari terbit itu kalah dalam Perang Pasifik. Ketika sekutu tahu bahwa perwira Kaigun (AL Jepang) itu terlibat proses Indonesia merdeka, hotel prodeo jadi kediaman berikutnya untuk beberapa saat.