ACEH punya tradisi unik yang tak ada di daerah lain dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi yang diperingati dua atau sehari jelang puasa ini namanya makmeugang atau meugang; membeli daging, memasak dan memakannya bersama keluarga.
Warga berbondong-bondong ke pasar untuk beli daging, kemudian membawa pulang ke rumah. Gantungan daging yang sudah disembelih, berjejer pada kayu di lapak-lapak penjual daging yang khusus hari ini tumbuh menjamur di sejumlah titik. Pemandangan unik ini bisa dijumpai diseluruh pelosok. Tak heran bila saat meugang aktivitas sebagian warga lumpuh, karena mereka larut dengan tradisi yang sudah turun temurun ini.
Bagi masyarakat Aceh, meugang tanpa membeli daging belum lengkap. Meski harga melonjak drastis saat meugang, lapak penjual daging tetap dikerumuni pembeli. Setiap keluarga biasanya membeli satu hingga tiga kilogram daging untuk disantap bersama.
Orang kaya biasanya membeli daging dalam jumlah banyak, kemudian membagikan kepada anak yatim atau tetangganya yang miskin. Bagi pria baru menikah, akan jadi aib kalau meugang tak membawa pulang daging ke rumah mertuanya. Sebaliknya akan menjadi kebanggaan keluarga, kalau ia membawa pulang kepala sapi atau kerbau.
Daging menjadi menu utama sebagai lauk nasi yang disantap bersama keluarga pada saat meugang. Menu daging yang dimasak secara tradisional seperti sie reuboh (daging rebus) di Aceh Besar dan sie puteh (daging putih) di Pidie sangat mudah dijumpai di rumah-rumah.
Di pedesaan yang adatnya masih kuat, orangtua akan melarang anak-anaknya bermain ke rumah tetangga atau sekolah pada hari meugang. Mereka wajib makan di rumah.