Dalam ilmu musthalah hadis, di dalam melakukan takhrij, sebagian ulama menyebutkan setidaknya ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman.
Pertama, takhrij menurut lafaz pertama matan hadis
Metode ini sangat tergantung kepada lafaz pertama matan hadis. Hadis-hadis dengan metode ini dikodifikasi berdasarkan lafaz pertamanya menurut urutan huruf-huruf Hijaiyah, seperti hadis-hadis yang huruf pertama dan lafaz pertamanya alif, ba, ta, dan seterusnya.
Seseorang mukharrij yang menggunakan metode ini haruslah terlebih dahulu mengetahui secara pasti lafaz pertama dari hadis yang akan ditakhrij-nya. Setelah itu barulah dia melihat huruf pertamanya pada kitab-kitab takhrij yang disusun berdasarkan metode ini, dan huruf kedua, ketiga, dan seterusnya. Maka, langkah yang akan ditempuh dalam penerapan metode ini adalah menentukan urutan huruf-huruf yang terdapat pada lafaz pertamanya, dan begitu juga lafaz-lafaz selanjutnya.
Kedua, takhrij menurut lafaz-lafaz yang terdapat di dalam matan hadis
Metode ini adalah berdasarkan pada kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, baik berupa isim (nama benda) atau fiil (kata kerja ). Hadis-hadis yang dicantumkan adalah berupa potongan atau bagian dari hadis, dan para ulama yang meriwayatkannya beserta nama kitab-kitab induk hadis dikarang mereka, dicantumkan di potongan hadis-hadis tersebut.
Penggunanaan metode ini akan lebih mudah manakala menitikberatkan pencarian hadis berdasarkan lafa-lafaz-nya yang asing dan jarang penggunaannya. Umpamanya, pencarian hadis berikut: inna nabiya shallallahualaihi wasallama, naaha an taama al-mutabariyaini an-yakkula
Dalam pencarian hadis di atas pada dasarnya dapat ditelusuri melalui kata-kata naha, thaam Yukal atau al-mutabariyaini. Akan tetapi, dari sekian kata yang dapat dipergunakan, lebih dianjurkan untuk menggunakan kata al-mutabariyaini karena kata tersebut jarang adanya. Menurut penelitian para ulama hadis, penggunaan kata tabara di dalam kitab induk hadis ( yang berjumlah sembilan) hanya dua kali.