LHOKSEUMAWE (Teluk Samawi) merupakan salah satu wilayah yang paling sedikit tempat pariwisata. Karenanya, Wali Kota dan DPRK Lhokseumawe perlu membenahi bidang ini.

Tempat-tempat yang sudah ada sebagai tempat wisata yang telah ada adalah Pantai Ujong Blang, Rancong atau Pulau Seumadu, dan Pelabuhan. Tempat tempat ini dikunjungi hanya sebagai tempat santai sambil makan minum, mandi, berfoto-foto, dan pulang. Tidak ada unsur lain selain hiburan.

Tempat bernilai hiburan semata, kecuali Kurokrok Gua Jepang Cot Panggoi, juga di Water Boom Blang Mangat, Bendungan Jeueukat, dan Bendungan Keliling Pusong. Itulah yang dianggap tempat wisata oleh penduduk sekitar dan pemerintah kota Lhokseumawe, untuk saat ini.

Akan tetapi ada tempat-tempat yang bernilai pendidikan, sejarah, keagamaan, seperti seperti Makam Putroe Neng di Blang Pulo, Makam Teungku Chik Di Paloh di Cot Trieng, Kulam Teungku Chik Di Paloh di Paloh Dayah, tugu dan tempat syahid Teungku Abdul Jalil Cot Plieng, belum dianggap tempat wisata oleh masyarakat, dan pemerintah kota Lhokseumawe belum menjadikannya sebagai tempat wisata walaupun memiliki nilai sejarah yang penting. Kita telah menyia-nyiakan aset dan potensi yang ada.

Dan ada satu lagi, tempat yang jika disiapkan, maka akan menjadi tempat wisata sekelas dunia. Dan, inilah inti dari pembicaraan kita sekarang.

Apa itu? Itulah Paya Cot Trieng

Pemerintah Kota Lhokseumawe boleh menjadikan Paya Cot Trieng sebagai pariwisata penting dan menjadi tempat WISATA PERANG. 

Walaupun sekarang bak ijaloh dan raboe di sana telah banyak yang dicah dijadikan sawah, akan tetapi itu salah satu tempat paling bersejarah dalam gerakan GAM dari 1976 sampai 2005. 

Paya Cot Trieng dikenal ke seluruh dunia, di kala hampir seluruh kekuatan militer RI yang dikirim ke Aceh di masa itu dikerahkan untuk membombardir paya itu, dalam rangka mengepung anggota GAM. Dan di suatu ketika di sana, salah satu telenta terbaik GAM, Bang Leman Tgk Mualem Panyang meninggal dunia.

Kita perlu membiarkan sebagian besar bak ijaloh itu tetap menjadi paya ijaloh. Setelah jalan lingkar dibangun, perlu dilengkapi dengan balai khas Aceh, beberapa balai dengan jarak tertentu. Di pinggir paya itu, di beberapa tempat saja, boleh dibikin kolam ikan, kanal, perahu kayuh, dan lainnya.

Di sana dapat dibangun pula gedung pusat wisata perang. Di sana ada pustaka kecil, galeri, diputar film dokumenter perang, dan sebagainya. Kalau ini dibangun dan jalan menuju ke sana juga dibuat sepadan, maka penduduk sekitar atau Aceh secara umum, penduduk Indonesia, bahkan penduduk luar negeri akan mengunjunginya. 

Siapkan booklet tentang sejarah perang dan semacamnya, dan latihlah beberapa orang penduduk setempat sebagai pemandu.

Datanglah ke Teluk Samawi (Lhokseumawe). Kalau ke sana, singgahlah di Paya Cot Trieng. Di sana juga ada Makam Teungku Chik di Paloh. Kalau ingin melihat meunasah dan kulamnya juga ada di Paloh Dayah.[]

Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan, Penulis novel Aceh 2025