JANTHO – Lokasi wisata ini dinamakan Greenland. Tempatnya berada di Jalan Jantho-Lamno, Desa Cucum, Aceh Besar. Jika beranjak dari Banda Aceh menggunakan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 60-80 kilometer melalui jalan nasional Medan-Banda Aceh membutuhkan waktu tempuh satu jam perjalanan.

Greenland dikelilingi oleh pepohonan hijau yang lebat. Di lokasi ini memiliki rumah makan dengan atap dari daun rumbia, lampu tradisional, dan langit-langit yang masih dihiasi pondasi kayu.

“Saya membuka tempat ini karena mencintai alam yang hijau. Nuansa yang berbau hijau. Karena itulah saya termotivasi untuk membuka wisata dengan nama Greenland,” ujar Dra. Hj Maslaila, pemilik lokasi wisata Greenland Jantho, Aceh Besar. 

Dia mengatakan wisata ini sudah dibangun sejak 2011. Namun destinasi wisata ini baru aktif beroperasi sejak 2014 lalu. Tempat ini juga hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu.

Greenland memiliki savana, hutan lebat, pemancingan, kolam renang dan resort. Selain itu, Greenland juga dilengkapi dengan outbond seperti flying fox, danau tantangan dan lainnya.

Bagi wisatawan yang hendak menikmati pesona alam dan segala fasilitas di lokasi ini cukup merogoh kocek Rp5 ribu per orang sebagai biaya masuk. Manajemen Greenland juga menyediakan paket untuk rombongan wisatawan Rp55 ribu per orang. 

Beberapa wahana bermain di Greenland juga dibanderol dengan harga yang lumayan murah. Seperti halnya tiket flying fox sebesar Rp20 ribu per orang, mandi kolam Rp10 ribu per orang, outbond Rp10 ribu per orang, dan mandi bola Rp10 ribu per orang.

Greenland juga menyediakan wahana adventure untuk anak-anak, seperti lorong-lorong yang terdapat pada kolam berenang. Bila lorong-lorong ini ditelusuri akan berujung di kolam yang dipenuhi  bola plastik.

Greenland juga mampu memikat para penikmat sunset dengan latar belakang padang rumput dan pepohonan. Lokasi wisata Greenland juga sering dipergunakan sebagai lokasi preweed dan camping.

“Makanan khas resto Greenland ini ayam bakar taliwang, rasa khas yang tercipta dari orang Lombok, yang diyakini sesuai lidah masyarakat Aceh,” ujar Maslaila.[](bna)