TERKINI
TAK BERKATEGORI

Mengintip Tradisi Hari Raya Kurban Tarekat Naqsabandiyah

Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Kota Padang, Sumatera Barat, menetapkan Idul Adha jatuh hari ini. Pagi tadi, ratusan jamaah Salat Id di Masjid Baitul Makmur, Kecamatan Pauh.…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 395×

Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Kota Padang, Sumatera Barat, menetapkan Idul Adha jatuh hari ini. Pagi tadi, ratusan jamaah Salat Id di Masjid Baitul Makmur, Kecamatan Pauh. Usai salat Id, mereka mencicipi hidangan berupa kue dengan minuman kopi dan teh yang dibuat oleh jamaah sendiri.

Ruangan Masjid Baitul Makmur yang berukuran sekira 10 x 10 meter dipenuhi oleh kaum bapak-bapak dan ibu-ibu yang umumnya sudah berusia sekira 40 tahun ke atas. Mereka duduk-duduk sambil berkelekar. Hari Raya Idul Adha memang dijadikan ajang untuk mempererat silaturahmi.

Setengah jam kemudian, Sekretaris Masjid Baitul Makmur, Edizon Revindo yang memakai baju koko putih disanding dengan kain sarung dan peci, berdiri lalu memberi salam pada para jamaah lainnya. Dia memberitahukan bahwa sebentar lagi akan dilakukan pemotongan hewan kurban.

“Ado sa ikua jawi yang akan awak kurbankan jo anam ikua kambiang nan kadijadian kurban, untuak itu apak-apak basiap-siap untuk mamulai acara awak ko (Ada satu ekor sapi yang akan kita kurbankan hari dan enam ekor kambing juga akan kita kurban. Untuk itu bapak-bapak bersiap-siap memulai acara kita ini),” katanya di hadapan jamaah yang sedang duduk, Sabtu (10/9/2016).

Setelah mendengarkan instruksi, panitia kurban yang telah dibentuk langsung bergegas. Hewan kurban disembelih kemudian dagingnya dibagi-bagi untuk jamaah dan warga sekitar masjid. Selain itu, panitia kurban menyisihkan daging untuk dimasak dan dimakan bersama-sama di masjid.

“Kalau tradisi kami di sini, kami menyisihkan beberapa daging sapi dan kambing untuk dimakan bersama para jamaah dan orang yang ikut kurban. Sementara itu, ada 200 kupon yang kami bagikan kepada jamaah dan warga di sekitar masjid yang bukan jamaah,” tuturnya pada Okezone.

Daging yang disisihkan panitia untuk dimakan bersama, kemudian diolah oleh para ibu. Kali ini, daging akan dimasak gulai. Untuk memasak daging kurban tersebut, pihak masjid memang sudah menyediakan kuali dan kayu bakar. Di samping ibu, tampak ibu-ibu sibuk mengambil peran masing-masing. Ada yang meracik bumbu, mencuci daging, lalu ada pula yang memasak nasi. “Uang untuk beli bumbu dan beras merupakan sumbangan dari jamaah,” terangnya.

Setelah semuanya matang, baik itu daging sapi dan kambing gulai serta nasi, seluruh jamaah berkumpul dan menyiapkan proses makan bersama. Makan bersama ini disebut makan bajambah. Setelah nasi dan lauk dihidangkan, Guru Tarekat Naqsabandiyah mengajak jamaah berdoa sebelum menyantap hidangan.

“Makan bersama ini sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah pada kita dan rasa terimakasih kasih kepada orang berkurban. Orang yang berkurban diajak makan bersama. Selain itu tujuan makan bersama ini untuk menjalin silaturahmi seluruh jamaah,” terangnya.

Menurutnya, tradisi makan daging kurban bersama di Hari Raya Idul Adha tidak hanya dilakukan di Masjid Baitul Makmur, tapi masjid Naqsabandiyah lainnya di Sumatera Barat. “Ini merupakan tradisi kami untuk bersama-sama dan gotong royong. Semua jamaah Naqsabandiyah yang tersebar di Sumatera Barat ini melakukan hal yang sama,” tutupnya.[] Sumber: okezone.com

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar