SALAH satu pembahasan dalam kajian dunia tasawuf adalah wasilah. Interpretasi tentang wasilah merupakan problema yang sangat urgen dan terikat dengan dunia tarekat. Sebagaimana halnya masalah…
SALAH satu pembahasan dalam kajian dunia tasawuf adalah wasilah. Interpretasi tentang wasilah merupakan problema yang sangat urgen dan terikat dengan dunia tarekat. Sebagaimana halnya masalah mursyid, masalah wasilah dalam suatu tarekat pada saat melaksanakan zikir dan ibadah, menempati posisi penting dan sangat menentukan.
Seluruh ulama sufi yang bertarikat pasti bermursyid, berwasilah dan merabitahkan rohaniahnya dalam beramal dan beribadah serta dalam kehidupan sehari-hari juga diterapkan nilai wasilah tersebut.
Di antara dalil yang menyinggung tentang problema wasilah adalah firman Allah SWT, dalam surat Al-Maidah, bunyinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (sukses) (Q.S. Al Maidah 5 : 35).
Secara etimologi sebagaimana diungkap dalam kamus Arab yang popular tepatnya dalam kamus Al Munjid , Wasilah adalah sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain. Memperkuat argumen ini salah seorang yang dekat dengan Rasulullah yakni paman beliau sendiri, Ibnu Abbas menegaskan, Wasilah itu adalah suatu pendekatan.
Bahkan salah seorang ulama tafsir terkenal Syekh Ibnu Kasir saat menafsirkan surat Al Maidah 5 ayat 35, bunyinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (wasilah) dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan.
Kata Al-Washilah dalam ayat di atas beliau menyatakan: Wasilah itu ialah sesuatu yang menyampaikan kepada maksud. (Tafsir Ibnu`Kasir (II): Al-Maidah:53). Sementara itu dalam pandangan Syekh Sulaiman Zuhdi pada waktu menafsirkan Q.S. Al Maidah 5: 35 menyebutkan: Pengertian umum dari wasilah adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan kita kepada suatu maksud atau tujuan. Nabi Muhammad SAW adalah wasilah yang paling dekat untuk sampai kepada Allah SWT, kemudian kepada penerus-penerusnya yang Kamil Mukammil yang telah sampai kepada Allah SWT yang ada pada tiap-tiap abad atau tiap-tiap masa. (Sulaiman Zuhdi,1288 H : 3).Syekh Muhammad Amin Al Kurdi menyatakan bahwa Wasilah ialah sesuatu yang menyampaikan ke Hadirat Allah SWT (Amin Al Kurdi, 1994 : 447).
Membahas fenomena semacam ini dalam persfektif ilmu Balaghah sebagaimana disebutkan dalam kitab ahmad Shawi dikenal adanya istilah Majaz Mursal. Dalam pengertiannya menyebut wadah, sedangkan sebenarnya yang dimaksud adalah isinya. Disebutkan pula Nabi Muhammad sebagai Wasilah, tetapi yang dimaksud sebenarnya adalah nuurun ala nuurin yang ada pada rohaniah Rasulullah SAW.
Dalam perspektif Syekh Kadirun Yahya menyatakan bahwa wasilah suatu channel, saluran atau frekuensi yang tidak terhingga yang langsung membawa kita kehadirat Allah SWT. Beliau menyebutkan wasilah itu ialah : Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki (Q.S. An Nur 24 : 35). Wasilah itu telah ditanamkan kedalam diri rohani Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW yang merupakan sentral penghubung antara Rasulullah SAW dan umatnya menuju kehadirat Allah SWT. Para sahabat dan umat Rasulullah harus mendapatkan wasilah ini di samping menerima warisan Alquran dan As Sunnah. (Kadirun Yahya 1989 : 12).[]