*Baihaki
Setelah salat subuh tepat pada pukul 06.00 pagi, pada hari Selasa tanggal 19 Januari 2016. Saya bersama kepala sekolah SDN Rikit Musara Januar Liyasmi, S.Pd. menelusuri Desa Rikit Musara yang berjarak 20 km dari Ibu Kota Kecamatan Permata, sebuah desa yang berada di kawasan terpencil di Kabupaten Bener Meriah, daerah yang berbatasan dengan Kecamatan Nisam, Aceh Utara.
Suhu dingin, apalagi kabut masih menyelimuti bukit dan pegunungan menuju Rikit Musara. Jalan berbatu dengan tanjakan yang berbahaya, ditambah jalan yang berlubang dan licin tanpa aspal sedikit pun membuat dua kali kami terjatuh dari motor. Namun, karena niat hati ingin melakukan ekspedisi pendidikan di daerah terpencil, akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, tepat pada pukul 08.00 saya bersama Kepseknya sampai juga ke sebuah sekolah di kaki bukit Desa Rikit Musara.
Bengkel Berjalan di Tengah Hutan
Lazimnya bagi seorang guru, ketika hendak menuju ke sekolah, tentu menyiapkan alat-alat tulis, buku, RPP, absen, dan kelengkapan bahan ajar lainnya. Namun kali ini, saya mendapatkan pengalaman yang berbeda. Ternyata guru-guru di sana di dalam ransel atau tas harus menyediakan perlengkapan tambahan, seperti ban serap, kunci inggris, kunci 12, 16, 18, pompa angin, sebotol air mineral, dan makanan ringan.
Ternyata benar saja, semua perlengkapan tersebut sangat bermanfaat. Ketika dalam perjalanan menuju pulang, motor yang kami kendarai bannya bocor. Tanpa harus menariknya ke bengkel karena di tengah hutan tidak ada jasa bengkel untuk menempel ban yang bocor. Langsung saja kepala sekolahnya mengeluarkan semua perlengkapan yang telah disediakan dalam ransel. Setelah memperbaiki ban motor lebih kurang satu jam satu jam, tentu sebotol air mineral dan makanan ringan dapat menghilangkan dahaga dan mengisi perut yang kosong di tengah hutan saat lewat jam siang.
Di sini dapat saya simpulkan, selain memiliki kemampuan untuk mengajar, guru-guru di sana juga harus memiliki mental menghadapi faktor alam, seperti jalan berlumpur, kabut di pegunungan dan perbukitan, menghindari binatang buas seperti harimau, ular, beruang, serangan tawon dan lebah. Yang juga tak kalah pentingnya, para guru di sana harus memiliki keahlian dalam ilmu perbengkelan karena saat pergi atau pulang dari sekolah ketika motor mengalami kerusakan atau bocor saat melewati medan yang berat, guru tersebut harus mampu memperbaikinya tanpa harus mendorong puluhan kilometer.
Menghidupkan Kembali Sekolah yang Hampir Mati
Dari cerita yang saya peroleh, aktivitas SDN Rikit Musara sekitar dua tahun yang lalu lumpuh total akibat tidak adanya guru. Walaupun pemda setempat telah menugaskan beberapa guru, semuanya pindah ke daerah yang mudah terjangkau. Akibatnya, selama empat bulan sekolah ini tidak melakukan aktivitas belajar mengajar. Selanjutnya, berkat tokoh-tokoh masyarakat yang berkoordinasi bersama pihak UPTD, Dinas Pendidikan setempat, dan beberapa tokoh yang peduli terhadap pendidikan, sekolah ini dapat difungsikan kembali dengan menempatkan guru PNS dan memanfaatkan tenaga honor dari putra daerah di Kecamatan Permata.
Januar Liyasmi, S.Pd. yang sekarang menjabat sebagai kepala sekolah merupakan salah seorang mantan aktivis mahasiswa era 2000-an di Kampus FKIP, Unsyiah, mantan Ketua Himpunan Mahasiswa PGSD FKIP, Unsyiah, dan mantan ketua Korwil Sumatera IKMA PGSD Indonesia. Berbekal pengalaman sebagai organisator tingkat provinsi dan nasional, bahkan pernah menjadi fasilitator daerah, beliau mencoba memberikan angin segar terhadap kemajuan pendidikan di SDN Rikit Musara.
Di usianya yang baru memasuki 33 tahun, pada pertengahan 2014 saat menerima surat penugasan sebagai kepala sekolah, tentunya beliau menerima dengan ikhlas walau banyak tantangan dan rintangan yang dilalui.
Awalnya hanya Januar Liyasmi satu-satunya guru PNS yang merangkap sebagai kepala sekolah dibantu beberapa orang guru honor. Namun, bermodalkan pengalaman organisasi yang beliau miliki, ia mencoba berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dengan meminta agar ditempatkan beberapa guru PNS di sana. Berkat koordinasi dan kerja sama yang baik serta dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bener Meriah, hingga saat ini SDN Rikit Musara memiliki empat guru PNS.
Di samping itu juga, Januar Liyasmi mengajak beberapa orang sarjana di Kecamatan Permata untuk sama-sama membangun pendidikan di Rikit Musara. Walaupun sebagian mereka bukan berlatar belakang sarjana pendidikan, hal itu tidak menjadi masalah. Yang penting mereka memiliki semangat untuk membangun dan ikhlas mengabdikan diri untuk membantu anak-anak di Rikit Musara.
Semangat Guru-Guru Muda di SDN Rikit Musara
Dari ekspedisi yang saya lakukan, apresiasi patut kita berikan kepada guru-guru di SDN Rikit Musara, baik yang berstatus PNS masih honor. Walaupun sebagian mereka merupakan guru honor yang tidak berlatar belakang pendidikan keguruan karena berijazah Fakultas Tekhnik, Ekonomi, Informatika, dan Hukum hal itu tidak menjadi kendala. Di sinilah mereka mencoba membangun semangat kebersamaan untuk saling asah, asih, dan asuh. Begitu juga dengan Januar Liyasmi sebagai kepala sekolah, tidak takut menghabiskan anggaran dari dana BOS untuk menggaji guru-guru honor dan mengurus tunjangan terpencil bagi guru-guru honor yang bersumber dari APBA provinsi asalkan anak-anak di SDN Rikit Musara mendapatkan pendidikan yang layak dan guru-guru memiliki semangat untuk mengajar.
Ibu Sarah, S.Kom. salah seorang guru honor yang kami jumpai di sana. Gadis berkulit putih kelahiran Permata 26 tahun silam ini mengatakan, setelah menamatkan pendidikan pada Jurusan Teknik Informatika dan Komputer di Universitas Muhammadiyah Jember-Jawa Timur, dia kembali ke kampung halamannya di Kecamatan Permata. Walau pernah menjadi bendahara PPK pada program PNPM di Kecamatan Permata, sekarang Sarah lebih memilih mengabdikan diri mendidik anak-anak di pedalaman Rikit Musara. Dia menolak menjadi honorer di kantor pemerintahan sekalipun ilmu yang ia miliki sangat dibutuhkan. Baginya mengajar anak-anak di pedalaman lebih menarik sekalipun melewati jalan yang penuh rintangan dan mendapat honor hanya ratusan ribu rupiah.
Di mata Ibu Sarah, anak-anak di pedalaman laksana permata di dalam lumpur yang jika terus diasah tentu suatu saat nanti akan memancarkan kilauannya yang indah. Ujar Sarah bersemangat. Di sini kita dapat mengambil contoh, ternyata masih ada para sarjana yang berjiwa ksatria dan memiliki nilai-nilai idealisme untuk memajukan pendidikan anak-anak di daerah pedalaman tanpa harus diukur dengan nilai material. Semangat pengabdian yang mereka tunjukkan merupakan sebuah inspirasi yang patut diapresiasi.
Tekad untuk Memajukan Pendidikan di Daerah Pedalaman
Setelah saya melihat langsung aktivitas belajar mengajar di SDN Rikit Musara, betapa bahagia dan bersemangatnya 54 murid yang sedang bersekolah di sana. Semangat belajar mereka tak kalah dibandingkan dengan anak-anak lain di perkotaan. Dukungan dari masyarakat setempat yang ingin melihat anak-anak mereka kelak menjadi generasi yang cerdas tersirat di mata mereka. Harapan itu tertumpu pada guru-guru yang bertugas di Rikit Musara. Sayangnya, fasilitas di sekolah itu sangat minim. Daerah ini juga sama sekali tidak memiliki jaringan alat komunikasi.
Berkat kerja sama antara kepala sekolah dan dewan guru SDN Rikit Musara serta peran masyarakat di sana, sekolah tersebut kini memiliki lahan seluas satu hektare, tiga kelas ruang yang layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, ditambah satu ruang dewan guru berlantai keramik, selebihnya masih berlantaikan tanah serta belum memiliki pagar. Namun, ini bukanlah penghalang bagi mereka, justru menjadi tantangan untuk meraih peluang terus berkarya.
Akhir-akhir ini perhatian pemerintah Kabupaten Bener Meriah melalui Dinas Pendidikan memberikan harapan untuk kemajuan pendidikan di Rikit Musara. Hal ini disampaikan oleh Januar Liyasmi sebagai kepala sekolah. Melalui koordinasi yang kami lakukan, pihak Dinas Pendidikan selalu menyahutinya, bahkan turut memberikan dukungan terhadap yang kami butuhkan. Semoga dengan adanya perhatian dari semua pihak yang peduli terhadap pendidikan, tak salah kiranya saat ini kami sedang menggali permata di Rikit Musara, yaitu mengasah dan mengasuh anak-anak di pedalaman agar mereka kelak menjadi generasi berkualitas dan pemimpin di negeri ini. Harap Januar dengan semangat.[]
*Baihaki, warga yang melakukan ekspedisi ke Rikit Musara.
