BAGI masyarakat Patani (Selatan Thailand) tidak ada yang tidak mengetahui sosok pemilik nama lengkap Muhammad bin Haji Abdul Qadir bin Muhammad bin Tuan Minal atau yang akrab dengan panggilan Tuan Guru Haji Sulong, selain dikenal sebagai ulama kharismataik spesialis dalam bidang tafsir dan ushuluddin beliau juga dikenal sebagai sosok pejuang sejati yang sangat berani menabuh gendrang perlawanan dengan pemerintah Thailand.
Pria kelahiran Kampung Anak Ru (sekarang masuk dalam wilayah Patani) pada tahun 1895 ini semenjak masa kanak-kanak sudah terlihat memiliki karakter yang berbeda dengan kawan-kawan sebayanya, hal ini tentunya tidak lepas dari peran orang tua yang senantiasa memberi perhatian, bimbingan serta kasih sayang kepada anak laki-lakinya.
Aktifitas Sulong kecil sama juga seperti anak-anak Patani pada umumnya, beliau bermain dengan rekan-rekan sepermainan, mempelajari ilmu Agama Islam sebagai modal hablum minallah (berhubungan dengan Allah) dan hablum minannas (berhubungan dengan sesama manusdia).
Beranjak usianya 12 tahun, beliau meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu ke Mekkah al-Mukarrahmah yang kala itu menjadi kiblat umat Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Disini beliau banyak mendapatkan pengetahuan baru yang belum pernah didapatkan semasa di kampung halamannya, selama 20 tahun belajar di Mekkah beliau dibekali oleh pengajar yang memiliki kapasitas keilmuwan mapan dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang diajarkan, tidak hanya berkaitan dengan ilmu ibadah murni (fiqih, tauhid dan tasawuf) beliau juga mempelajari ilmu politik dan sastra Arab.
Setelah melihat suasana Mekkah kian hari kian tidak kondusif pasca meletusnya perang dunia pertama, akhirnya Haji Sulong membulatkan tekad untuk meninggakan Mekkah. Sembari menunggu Mekkah kembali normal, beliau berkelana dan berdakwah ke berbagai pelosok negeri, diantaranya ke Kamboja, Bangkok, Singapura, Malaysia, bahkan ke Aceh, dan tujuan akhir ingin pulang ke kampung halamannya Patani.
Sambil menyebarkan syiar, beliau juga memantau perkembangan Islam di berbagai daerah termasuk kampung halamannya sendiri, dari hasil pantauan dapat disadari ternyata umat Islam sedang mengalami stagnasi yang sangat luar biasa, menyikapi hal tersebut Haji Sulong mulai mengurungkan niat untuk kembali ke Mekkah, dia sudah berkomitmen penuh untuk menetap di Patani dengan tujuan ingin mengajak umat Patani kembali ke arah yang lebih baik.
Dari itu, dia mulai membangun komunikasi secara intens dengan tokoh-tokoh politik di luar negeri, Haji Sulong juga menularkan kepada umat Patani semangat gerakan pan-Islamisme yang dipelopori oleh Jamaluddin al- Afghani seorang tokoh pembaharuan Islam terkemuka.
Di di lain sisi beliau juga mendirikan sekolah berbasis pesantren yang diberi nama madrasah al-maarif al-whataniyah, beberapa sejarawan Melayu mengatakan bahwa sekolah yang didirikan ini merupakan sekolah pertama di Patani yang mengkolaborasikan pendidikan corak pesantren dengan pendidikan bercorak modern.
Tidak hanya memberikan perhatian di sektor pendidikan, Haji Sulong pada tahun 1939 juga mendirikan lembaga politik dan hukum yang diberi nama al-Haiah al-Tanfiziah lil-Ahkam al-Shariyyah, didirikan lembaga ini bertujuan untuk memberi pemahaman kepada umat Islam Pattani tentang hukum dan politik menurut perspektif Islam bukan menurut perspektif siam (Thailand).
Tujuh Tuntutan dan Agustus Kelam
Di bawah pemerintahan Perdana Menteri Phibul Songkram, intervensi terhadap masyarakarakat Patani semakin jelas, sekolah yang pernah dibangun oleh Haji Sulong ditutup paksa oleh pemerintah, masyarakat Muslim dikekang agar tunduk dengan konstitusi yang dirancang oleh pemerintah Thailand.
Hal itu sangat berlawanan dengan hati nurani Haji Sulong, sehingga beliau menentang keras tindakan pemerintah tersebut, namun hasilnya belum berbuah manis, dikarenakan tidak adanya balance of power antara masyakat Muslim Selatan dengan pemerintah Thailand.