Penduduk Istanbul, baik bagian Eropa atau Asia, bertindak cepat untuk semua urusan. Sepertinya, hidup berada di perbatasan budaya timur dan barat benar-benar merasuki jiwa mereka sepanjang zaman. 

Istanbul adalah nama ketiga dari nama sejak zaman Rumawi, Bizantium. Saat itu disebut Konstantinopel atau Kota Kaisar Konstantine. Lalu setelah Sultan Mehmet pemompin Turki Usmani menaklukkannya, Konstantinopel pun disebut Islambul, yang berarti Orang Islam banyak, dan dijadikan ibukota Turki Usmani. Kemudian, setelah Mustafa Kemal mengubah Ottoman menjadirepublik Turki, Islambul diganti menjadi Istanbul, ibukota dipindahkan ke Ankara.

Namun, orang orang kadang menduga begini, karena menyadari bahwa dirinya pemilik peradaban besar sepanjang zaman, maka penduduk Istanbul, sepertinya tidak akan pernah mengakui peradaban di tempat lain, baik di Asia, Eropa atau benua lain. Istanbul pusat peradaban dunia. Namun, dugaan itu salah.

Penduduk Istanbul dan Turki umumnya memang menyadari mereka punya kebesaran itu, akan tetapi sifat mereka rendah hati, mereka dididik untuk memimpin, ialah apa yang diwariskan oleh Sultan Ottoman, bahwa mereka harus membantu penduduk di belahan bumi lain, baik mereka tengah melarat atau pun berada.

Inilah yang membuat kenyataan bahwa bantuan kemanusiaan dan lainnya ke seluruh dunia adalah dari Turki. Itu budaya mereka, berlomba-lomba membantu orang lain, berlomba-lomba berbuat baik. Mereka menganggap itu kebutuhan dan tujuan hidup manusia di dunia, untuk saling membantu.

Sikap seperti itulah yang membuat negara lain di masa Islam gemilang menabalkan Kesultanan Turki Usmani sebagai khalifah Islam. Sementara Turki tidak pernah menyebut diri mereka khalifah.

Hal itu berulang sekarang. Turki, pada dasarnya hanya menguatkan diri, menyesuaikan keadaan dengan budayanya, yang sebagian besar Islamik.

Walaupun ada kabar angin tentang Turki ingin mengembalikan Ottoman, itu adalah khayalan orang Islam selain Turki, atau fitnah barat atas ketakutan mereka sendiri pada kebangkitan Turki. Tidak ada kabar itu terdengar di Istanbul atau kota lain di Turki.

Yang dapat dipelajari dari itu adalah, Istanbul menyadari bahwa mereka memiliki peradaban yang besar dan menjaga sifat itu sepanjang zaman.[]