JAKARTA – Polisi disebut sebagai target dari kelompok terorisme. Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI, Laksda Soleman Ponto menyebutkan, hal itu akibat kebiasaan Polri yang kerap membunuh pelaku teror.
Bahkan kemarin, Minggu 14 Februari 2016, aparat kepolisian baru saja menembak mati terduga teroris kelompok Santoso di Desa Sanginora, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Poso, Sulawesi Tengah.
“Terbunuh (masih) terduga. Hanya dugaan, tapi terbunuh gimana itu? Coba kalau itu saudara kita, sakit hati kan? Apalagi daerah Poso sana daerah kecil. Satu kota bisa sakit hati semua,” kata Soleman saat dihubungi Okezone, di Jakarta, Senin (15/2/2016).
Menurutnya, penanganan yang baik saat bertemu dengan terduga teroris ialah menangkapnya hidup-hidup, bukan ditembak mati. Ia sangat menyayangkan sikap Polri yang kerap membunuh terduga teroris. Baginya, hal itu justru menimbulkan persoalan baru.
“Kalau dia buru orang yang belum tentu melakukan, dia menimbulkan masalah baru. Berarti dia membunuh berdasarkan dugaan kan? Nah, kalau berdasarkan dugaan kemudian tidak terbukti atau buktinya kecil kemudian dipaksakan, yang ada jadi rekayasa,” serunya.
Umumnya, alasan polisi menembak mati terduga teroris lantaran dia telah membahayakan anggota. Soleman mengaku tak sependapat atas hal itu. Ia menilai kalimat itu hanyalah pembelaan.
“Kalau polisi terbunuh saat penangkapan ya itu risiko tugas. Jangan masuk polisi kalau tidak ingin terbunuh. Sama dengan tentara, jangan masuk tentara kalau tidak ingin terbunuh di medan pertempuran,” tuturnya.[] Sumber: okezone.com