TAMPIL beda, intat linto baro (mengantar pengantin pria) dengan menunggang gajah ke rumah dara baro (pengantin wanita). Itulah yang tampak saat intat linto baro di Desa Kuta Bate Baroeh, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, ke rumah dara baro di Desa Nibong, Senin, 9 November 2015. Jarak dua rumah itu, sekitar 500 meter.

Pengantin pria, Faisal, 30 tahun, warga Kuta Bate Baroeh, dan pengantin wanita, Rahmawati, 26 tahun, warga Nibong. Mengapa intat linto dilakukan dengan menunggang gajah?

Suryani, 43 tahun, ibu kandung Rahmawati kepada portalsatu.com di sela-sela prosesi tueng linto baro (menyambut pengantin pria) itu menjelaskan, awalnya sekitar empat tahun lalu, anak kandungnya dipinang oleh Faisal. Namun, kala itu, Faisal belum memiliki pekerjaan tetap, meski sudah berusaha ke sejumlah tempat.

Faisal kemudian menceritakan keluh kesahnya kepada Rahmawati, bahwa ia telah berupaya melamar pekerjaan, akan tetapi belum beruntung. Rahmawati lantas meneruskan cerita itu kepada Suryani dengan harapan agar ibu kandungnya itu berdoa agar Faisal mendapat pekerjaan.

“Ketika berdoa itulah, saya mengucapkan sebuah kaoi (nazar). ‘Jika dia (Faisal) dapat kerja yang bagus, dan berjodoh dengan Rahmawati, maka saat pesta intat linto dengan menggunakan gajah’,” kata Suryani.

Menurut Suryani, beberapa hari kemudian, Faisal diterima bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan terkemuka di Batam. Faisal pun berangkat ke Batam untuk bekerja.

“Ternyata mereka berjodoh. Sejak tahun 2014, Faisal mempersiapkan pernikahannya, termasuk untuk melepas kaoi itu,” ujar Suryani yang kini menjadi ibu mertua Faisal.

Suryani menyebut gajah yang menjadi kendaraan intat linto tersebut disewanya di tempat penangkaran gajah di Cot Girek, Aceh Utara, sekitar Rp8 juta.

“Alhamdulillah, kaoi saya telah dipenuhi. Dan anak saya yang saat ini bekerja sebagai bidan di Puskesmas telah memiliki suami,” kata Suryani.

Suryani menambahkan, kaoi tersebut ia ucapkan karena teringat dengan kisah kakaknya. Puluhan tahun silam, kakaknya juga menikahkan anaknya dengan prosesi intat linto seperti itu.

“Dulu, mereka tinggal di kawasan perkebunan, hanya ada gajah sebagai transportasi,” ujar Suryani.

Suryani berkata, “Tak ada maksud lain, hanya sebatas melepas kaoi saja”.[]