Riuhnya persoalan surat dukungan bermaterai bukan hanya di Aceh. Di tingkat Pusat pun polemik ini terjadi. Para politisi berlomba membangun benteng untuk menyelamatkan perahu masing-masing. Dalam konteks ini, kita patut bertanya kepada politisi kita. Mereka sedang bekerja untuk partainya atau negaranya?
Logika-logika bodoh yang mereka bangun mengganggu akal sehat kita. Saat dilantik, jelas tidak sebait sumpah pun ada kewajiban mereka untuk membela kelompok atau partainya. Ketika sudah menduduki jabatan maka tugas pokok mereka menjalankan roda negara, bukan roda pribadi atau partai.
Kaum politisi seharusnya berpikir lebih ideal. Bagaimana seharusnya negara semakin baik dalam penyelenggaraannya. Akan tetapi, apa yang dipertontonkan para politisi kita di DPRA jauh dari harapan itu. Mereka harus sadar bahwa di Aceh saat ini krisis kepemimpinan. Aceh saat ini adalah seperti keluarga kaya yang barusan kehilangan ayah. Punya semuanya tapi tidak bisa diproduktifkan.
Maka yang dibutuhkan Aceh hari ini bukan orang yang cuma menjadi Gubernur, Bupati atau Wali Kota. Kita butuh pemimpin laksana konduktor orkestra. Pemimpin yang bisa menggerakkan potensi kita. Pemimpin yang punya cita-cita besar. Cita-cita yang bukan hanya untuk dirinya, keluarganya atau kroninya.
Di masa lalu, kita punya Gubernur Ibrahim Hasan. Dengan segala kekurangan dia berhasil membangun Aceh dalam banyak hal. Dia punya visi yang jelas. Mampu menggerakkan segala potensi. Kita ingat jargonnya “jaroe bak langai, mata u pasai“. Untuk ukuran Bupati, kita punya Nurdin AR di Pidie. Walau minim anggaran tapi sukses menggerakkan rakyat untuk membangun perguruan tinggi dan pembangunan irigasi yang amat memadai.