Lembaran-lembaran Muhimme Defterleri yang Terulang
TUAN Utsman yang tak mengkhabarkan terlebih dahulu kedatangannya ke rumahku pagi ini, membuat beliau harus menunggu setengah jam lebih di luar.
Punggungku terasa gatal disebabkan oleh beberapa gigitan nyamuk yang butuh beberapa tetes darah untuk mengisi perut belangnya, demi bertahan hidup.
Aku pun menggulung karpet merah buatan Turki yang telah menjadi alas tidurku tadi subuh. Selain ingin mengambil hasil sketsa rancanganku tentang istana Daruddunia, kedatangan Tuan Utsman juga untuk mengajakku ke bandara, mengambil paket yang dikirim oleh perusahaan mobil limosin.
Namaku Coskun Aral. Ayahku memberikan nama ini untuk mengenang seorang photografi negeri Turki yang sangat beliau kagumi. Ayahku bernama Abdullah, seorang pemegang piagam photographer terbaik yang diberikan oleh salah satu perkumpulan media terbesar turki karena fotographi-fotographi social dari bagian Asia Tenggara yang beliau perkenalkan. Aku lahir dan dibesarkan di Emperum.
Setelah mandi pagi aku mendekat ke laptop, ternyata benar di pesan masuk ada email woow..mobil limosin kami sudah siap..haha.”
Tanpa sengaja botol minyak rambut yang ada di tanganku terjatuh dan tumpah di lantai.. Mobil ini adalah hasil desainku yang oleh perusahaan limosin juga membuatnya berdasarkan konsep rancanganku dengan utuh dan tidak mengubahnya sedikitpun.
Di Emperum, Bitaj
Hari-hari berikutnya Pekerjaan sehari-hariku hanyalah merawat kendaraan limosin Tuan Utsman. Beliau adalah seorang tokoh negeri yang disegani. Perihal tentang kebesarannya, sudah banyak ditulis di media- media cetak di halaman muka, pemimpin redaksinya juga mengakui bahwa beliau adalah bekas seorang panglima perang pembebas tanah ini atau nama populernya sering disebut sebagai Mualem. Seorang yang mempunyai pengikut terbanyak di tiap-tiap kota dan jurong-jurong yang ada di seluruh Aceh dan sangat berpengaruh.
Di bandara yang ramai ini, aku dan pemimpin negeri ini berbicara banyak hal tentang mobil yang akan di kirim hari ini. Namun percakapan kami pun terhenti oleh deru sebuah pesawat berukuran sedang yang mendarat. Sebuah mobil limosin putih dari pabrikan Rusia bergaya mobil pendaki gunong yang sederhana, perlahan meluncur dari perut pesawat.
Satu minggu setelah limosin berada di halaman rumahku, membuat Tuan Ahmet dari Turki-seorang pelatih pilot pesawat tempur, limosin, tank, dan kapal selam itu-harus pulang-datang ke rumahku untuk mengajariku memahami mesin terhebat yang akan menjadi tanggung jawabku ke depan.
Senja Rabu, aku pun telah berhasil memahami cara mengendalikan mobil baru ini. Kata Tuan Ahmet, mobil ini jika starnya di-on, maka GPS-nya yang terhubung dengan satelit terbesar yang ada diangkasa menjadikan mobil ini akan mencari jalannya sendiri walaupun di cuaca redup dengan tanpa pengemudi sekalipun dan berhenti sendiri ketika bahan bakar habis. Bahkan jika dibawa ke manapun di seluruh dunia. Dan di monitornya akan menampakkan semua pesawat tempur yang sedang mengudara di seluruh dunia.
Tuan Utsman dengan tujuh asykar membawa satu mesin senapan otomatis, empat senapan buatan Rusia, dan dua buatan Cina. Kami pun menuju lapangan yang jauh dari perkampungan.
Dalam uji coba ini para asykar mendemontrasikan bidikan terhebatnya ke arah mobil baru yang seharga satu pesawat pribadi itu. Dari hasil uji hancur yang terlihat mobil itu tidak mengalami kerusakan.
Di musim penghujan ini di bekas tempat istana Daruddunia sebelum penjajahan Belanda, selama Tuan Utsman menjadi pemimpin–telah membebaskan seluruh kawasan kota Banda dari kepemilikan tanah tempat pribadi dan diubah menjadi fasilitas umum. Seperti perpustakaan umum, lapangan, gedung laboratorium terbesar–dar as-syifa tradisional–, satu gedung untuk para seniman, satu museum alam yang padat informasi sejarah, adat, ekonomi, hasil bumi, dan artefak bersejarah lainnya, dengan tanaman bebunga yang memenuhi halaman dan ruangan lingkungan Daruddunia baru.
Pengerjaan rancangan Daruddunia baru ini menggunakan perpaduan desain konsep ciri khas Aceh- Turki. Ratusan traktor, bolduzer, kren, dua mobil pengisi bahan bakar untuk setiap harinya, dan ratusan truk juga diturunkan ke lapangan yang akan menjadi Daruddunia baru ini.
Sistem kerja dibagi dua grup. Satu grup untuk siang, dan satu grup bekerja malam. Para buruh dari seluruh Aceh pun datang ke Banda dan mendapat pekerjaan. Bangunan Daruruddunia baru ini secara keseluruhan menyerupai gaya Turki.
Qanun dalam rancangan ini, salah satunya Tuan Utsman menegaskan, para kontraktor yang tergabung dalam proyek ini, apabila berbuat kesalahan besar akan berhadapan dengan para asykar yang telah ditentukan.
Tujuh bulan dari awal pengerjaan fisik bangunan telah muncul di atas permukaan gedung-gedung telah terlihat gedung-gedung pencakar langit baru yang sedang di bangun diujung pulau Sumatra. saham-saham dari Turki pun berdatangan, termasuk pabrik permadani, dan lain-lain juga dibangun. Kedai-kedai penjual kebab dan berbagai makanan Turki jenis lainnya pun semakin mudah ditemui di tempat pembangunan Daruddunia baru.
Desember
Sepasang merpati putih terus mengepak sayang-sayap perkasanya bermain menikuk di antara pepohonan Pelabuhan Ulee Lheue.