TERKINI
CITIZEN REPORTER

Menanti Kapal Induk Turki Datang

Lembaran-lembaran Muhimme Defterleri yang Terulang TUAN Utsman yang tak mengkhabarkan terlebih dahulu kedatangannya ke rumahku pagi ini, membuat beliau harus menunggu setengah jam lebih  di…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 7 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×
Lembaran-lembaran Muhimme Defterleri yang Terulang 

TUAN Utsman yang tak mengkhabarkan terlebih dahulu kedatangannya ke rumahku pagi ini, membuat beliau harus menunggu setengah jam lebih  di luar. 

Punggungku terasa gatal disebabkan oleh beberapa gigitan nyamuk yang butuh beberapa tetes darah untuk mengisi perut belangnya, demi bertahan hidup.

Aku pun menggulung karpet merah buatan Turki yang telah menjadi alas tidurku tadi subuh. Selain ingin mengambil hasil sketsa rancanganku tentang istana Daruddunia, kedatangan Tuan Utsman juga untuk mengajakku ke bandara, mengambil paket yang dikirim oleh perusahaan mobil limosin. 

Namaku Coskun Aral. Ayahku memberikan nama ini untuk mengenang seorang photografi negeri Turki yang sangat beliau kagumi. Ayahku bernama Abdullah, seorang pemegang piagam photographer terbaik yang diberikan oleh salah satu perkumpulan media terbesar turki  karena fotographi-fotographi social dari bagian Asia Tenggara yang beliau perkenalkan. Aku lahir dan dibesarkan di Emperum.

Setelah mandi pagi aku mendekat ke laptop, ternyata benar di pesan masuk ada email ‘woow..mobil limosin kami  sudah siap..haha.”

Tanpa sengaja botol minyak rambut yang ada di tanganku terjatuh dan tumpah di lantai.. Mobil ini adalah hasil desainku  yang oleh perusahaan limosin juga membuatnya berdasarkan konsep rancanganku dengan utuh dan tidak mengubahnya sedikitpun.

Di Emperum, Bitaj

Hari-hari berikutnya Pekerjaan sehari-hariku hanyalah merawat kendaraan limosin Tuan Utsman. Beliau adalah seorang tokoh negeri yang disegani. Perihal tentang kebesarannya, sudah banyak ditulis di media- media cetak di halaman muka, pemimpin redaksinya juga mengakui bahwa beliau adalah bekas seorang panglima perang pembebas tanah ini  atau nama populernya sering disebut sebagai ‘Mualem’. Seorang yang mempunyai pengikut terbanyak di tiap-tiap kota dan jurong-jurong yang ada di seluruh Aceh dan sangat berpengaruh.

Di bandara yang ramai ini, aku dan pemimpin negeri ini berbicara banyak hal tentang mobil yang akan di kirim hari ini. Namun percakapan kami pun terhenti oleh deru sebuah pesawat berukuran sedang yang mendarat. Sebuah mobil limosin putih dari pabrikan Rusia bergaya mobil pendaki gunong yang sederhana, perlahan meluncur dari perut pesawat. 

Satu minggu setelah limosin berada di halaman rumahku, membuat Tuan Ahmet dari Turki-seorang pelatih pilot pesawat tempur, limosin, tank, dan kapal selam itu-harus pulang-datang ke rumahku untuk mengajariku memahami mesin terhebat yang akan menjadi tanggung jawabku ke depan. 

Senja Rabu, aku pun telah berhasil memahami cara mengendalikan mobil baru ini. Kata Tuan Ahmet, mobil ini jika starnya di-on, maka GPS-nya yang terhubung dengan satelit terbesar yang ada diangkasa menjadikan mobil ini akan mencari jalannya sendiri walaupun di cuaca redup dengan tanpa pengemudi sekalipun dan berhenti sendiri ketika bahan bakar habis. Bahkan jika dibawa ke manapun di seluruh dunia. Dan di monitornya akan menampakkan semua pesawat tempur yang sedang mengudara di seluruh dunia.

Tuan Utsman dengan tujuh asykar membawa satu mesin senapan otomatis, empat senapan buatan Rusia, dan dua buatan Cina. Kami pun menuju lapangan yang jauh dari perkampungan.

Dalam uji coba ini para asykar mendemontrasikan bidikan terhebatnya ke arah mobil baru yang seharga satu pesawat pribadi itu. Dari hasil uji hancur yang terlihat mobil itu tidak mengalami kerusakan. 

Di musim penghujan ini di bekas tempat istana Daruddunia sebelum penjajahan Belanda, selama Tuan Utsman menjadi pemimpin–telah membebaskan seluruh kawasan kota Banda dari kepemilikan tanah tempat pribadi dan diubah menjadi fasilitas umum. Seperti perpustakaan umum, lapangan, gedung laboratorium terbesar–dar as-syifa tradisional–, satu gedung untuk para seniman, satu museum alam yang padat informasi sejarah, adat, ekonomi, hasil bumi, dan artefak bersejarah lainnya, dengan tanaman bebunga yang memenuhi halaman dan ruangan lingkungan Daruddunia baru. 

Pengerjaan rancangan Daruddunia baru ini menggunakan perpaduan desain konsep ciri khas Aceh- Turki. Ratusan traktor, bolduzer, kren, dua mobil pengisi bahan bakar untuk setiap harinya, dan ratusan truk juga diturunkan ke lapangan yang akan menjadi Daruddunia baru ini.

Sistem kerja dibagi dua grup. Satu grup untuk siang, dan satu grup bekerja malam. Para buruh dari seluruh Aceh pun datang ke Banda dan mendapat pekerjaan. Bangunan Daruruddunia baru ini  secara keseluruhan menyerupai gaya Turki.

Qanun dalam rancangan ini, salah satunya Tuan Utsman menegaskan, para kontraktor yang tergabung dalam proyek ini, apabila berbuat kesalahan besar akan berhadapan dengan para asykar yang telah ditentukan.

Tujuh bulan dari awal pengerjaan fisik bangunan telah muncul di atas permukaan gedung-gedung telah terlihat gedung-gedung pencakar langit baru yang sedang di bangun diujung pulau Sumatra. saham-saham dari Turki pun berdatangan, termasuk pabrik permadani, dan lain-lain juga dibangun. Kedai-kedai penjual kebab dan berbagai makanan Turki jenis lainnya pun semakin mudah ditemui di tempat pembangunan Daruddunia baru.

Desember

Sepasang merpati putih terus mengepak sayang-sayap perkasanya bermain menikuk di antara pepohonan Pelabuhan Ulee Lheue.

Di kejauhan samudra biru terlihat sebuah kapal induk mendekat.

“Lihat itu kapal induk terbesar abad ini, kapal induk Turki,” Kata Tuan Utsman sambil membetulkan jas hitamnya yang kusut disebab sejam telah bersandar di kursi. Ia menunggu presiden Turki tiba.

Tuan negeri Turki pun mendarat dengan diikuti oleh seribu asykarnya dan juga raja Arab berjalan di belakangnya dengan tanpa membawa pengawal dengan memakai mobil yang mereka bawa di kapal induk, dan jalan- jalan Kota Banda pun dipenuhi oleh mobil-mobil military Turki.

Untuk memperingati ulang tahun Aceh tahun ini Tuan Utsman memilih lapangan terbang sultan Iskandar Muda sebagai tempat acara. Dan bandara ini pun harus kami tutup untuk penerbangan selama tiga hari. 

Hari ini adalah hari pertama acara ulang tahun. Di limosin aku menekan tombol kotak perangkat kamera, dan sebuah kamera dengan triportnya keluar secara digital dari dinding mobil.

Dalam kata sambutannya yang sangat singkat itu, Presiden Turki sempat mengucapkan beberapa kata penting.

“Saya merasa…hari ini bagai masih berada di Istanbul. Aceh adalah sahabat tua bagi kami. Di negeri kami dalam catatan ‘Muhimme Defterlari’ masaalah Aceh telah tercatat telah sejak lama, dan akan terus kami jaga.. Berawal dari pasukan pengikut Ayyubiyah terakhir yang musafir ke Samudra Pasai, dan di sana kami mengangkat Kay Kosru yakni putra mahkota dari kesultanan Delhi yang tersingkir menjadi sultan Samudera Pasai dan ia kami sahih dengan lakap ‘ Malik As-shalih’. Waktu itu orang-orang kami yang  tergabung dalam kafilah berangkat dari mesir, singgah di Delhi kemudian ke Samudra Pasai dengan tujuan kesultanan samudra pasai harus kuat dengan kemutlakan berpegang pada ahlussunnah waljamaah.

Selang beberapa abad kemudian hubungan ini kembali terjalin dengan ceritera yang terkenal dengan kisah lada sicupak. Sebagai upaya kerja sama menghalau perompak portugis yang ingin menguasai jalur perdagangan muslim di perairan selat malaka…dan saya berharap! Aceh-Turki hari ini pun mesti bisa mencapai suatu manfaat, bersama membangun peradaban. Pertahankan iman. Adakah dari selain itu berharga?”

Inilah kata-kata yang terekam dengan siaran langsung yang bisa disaksikan di Turki sendiri dan di belahan dunia lainnya. Aku pun merekam acara hingga acara rapa-i seribu pun digelar.

“Tuan-puan! Inilah acara yang bisa mengobat hati siapa saja gairah hidupnya tergadai..acara peeh raapaa-ii siiriiiiibee!!!.”

Demikian teriak seorang komentator di podium membuat sorak-sorai pengunjung yang memenuhi lapangan blang bintang pun menggema.

Dalam acara rapa-i ini juga hadir seorang ulama dari Mesjid Raya Samalanga sebagai undangan dari Tuan Utsman.

Pergelaran menabuh seribu rapai berjalan selama tiga puluh menit dengan  seratus pedebus. Pedebus adalah bertarung yang memakai pedang saling menebas.

Uniknya tak seorang peserta debus pun yang tergores atau dengan kata lain tiada satu helai rambut pun jua yang terputus, padahal batu yang keras bisa dibelah dengan pedeng- pedeng tersebut. Dengan melihat kejadian kebal debus tersebut saya teringat pada pesan seorang ulama tauhid.

Pada bilah pedang yang tajam adalah disifatkan ianya bisa melukai. Namun bila Allah tidak menghendaki, pedang yang tajam, atau api yang panas tidak bisa memberi mudharat bagi manusia.

Di Turki, dari stasiun yang kami siarkan langsung terlihat penduduk Turki tengah menikmati acara seribu rapa-i.’

Usai perhelatan itu pasar rakyat pun digelar di mana berbagai cendera mata dari Aceh ditunjukkan.

Sebelum kembali ke negerinya, Presiden Turki yang berwibawa itu memilih seratus ilmuan Aceh untuk dibawa ke sana guna mendalami berbagai ilmu yang sesuai dengan yang didalaminya.

Ketika seluruh acara perayaan ulang tahun selesai, Presiden Turki itu pun ke Pemakaman Bitaj, memanjatkan do’a, dan kembalilah armada hebat itu ke negeri tujuh belas ribu masjid, Turki..[]

Lodins LA, peminat seni

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar