LANGSA – Pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) untuk Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota se-Provinsi Aceh dijadwalkan dilaksanakan serentak pada 9 Februari 2017 mendatang.
Menghadapi momen demokratis tersebut, sejumlah nama mulai bermunculan untuk memperebutkan kursi Aceh satu (gubernur). Demikian pula sejumlah daerah tingkat kabupaten/kota juga bermunculan sebagai kandidat bupati/walikota.
Tulisan ini mencoba mengulas tanggapan masyarakat Aceh tentang pencalonan kembali Zaini Abdullah (incumbent) sebagai Gubernur Aceh 2017-2022. Berikut cuplikan komentar warga.
''Zaini itu orang yang bersahaja, santun dan sangat menjunjung tinggi nilai Keislaman,'' ujar Direktur LSM Piranti Bangsa, Farid Wajidi di Langsa, Selasa sore.
Menurutnya, sebagai Gubernur Aceh 2012-2017, Zaini lemah dalam manajerial kepemimpinan. Hal ini karena dia (Zaini-red) mengedepankan kesantunan dan tidak tega dalam mengekseskusi sesuatu yang kurang tepat dalam kaitan peningkatan kinerja aparatur terlebih daya serap APBA masih minim.
''Pak Zaini tidak tega dalam mengeksekusi bila ada bawahannya yang tidak bekerja sesuai harapan. Kendati selama ini telah dilakukan beberapa kali mutasi, tapi peranan Wagub Muzakir yang lebih dominan dalam menentukan pejabat teras di lingkup Pemerintah Aceh,'' tutur dia.
Selain itu, Zaini dianggap terlalu renta untuk memimpin Aceh lima tahun ke depan. Faktor kesehatan juga perlu dipertimbangkan. “Kesehatan beliau harus dipertimbangkan. Aceh ke depan butuh pemimpin energik dan kuat secara lahir dan bathin,”? sebut Farid memprediksi.
Jika Zaini kembali maju, sambung dia, bisa saja kalah dalam Pilkada mendatang. Namun, kemungkinan menang masih terbuka, selama mampu meningkatkan kinerja pemerintah dibawah kepemimpinannya yang sudah dipenghujung periodesasi.
Sementara, seorang mantan santri yang telah malang-melintang mondok di sejumlah pesantren di Aceh, Ibrahim Zamzami menuturkan, kepemimpinan Aceh masa depan idealnya ditangan tokoh yang agamais dan berjiwa petualang.
''Ke depan ya…yang berjiwa petualang dan taat beribadah. Kenapa?, karena letak geografis Aceh yang sangat spesifik dibutuhkan pemimpin tanggung. Kemudian, Aceh mayoritas muslim penduduknya dan juga berjuluk Serambi Mekkah, sehingga pemimpin harus taat agama dan ibadah,'' papar anak muda ini.
Jadi, kata dia, pandangannya ke depan Zaini Abdullah sudah sepantasnya menjadi orangtua yang memberikan masukan dan nasihat bagi pemegang mandat rakyat atas tampuk tertinggi pemerintahan di Aceh.
''Dokto Zaini ke depan sudah bisa menjadi Wali Nanggroe, memberikan masukan dan saran atas jalannya roda pemerintahan,'' imbuh dia.[] Sumber: antaranews.com